Malam ini adalah malam ke-12 saya
tinggal di Mulyoagung, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Saya di sini
untuk menjalankan tugas KKN dari kampus. Hmm, suasana baru untuk menulis
memang. Sangat disayangkan kalau sampai saya tak menulis di sini.
Minggu, 09 Agustus 2015
Rabu, 22 Juli 2015
Makan Sambil
Lebaran adalah waktu yang tepat
untuk berkumpul bersama keluarga. Bersilaturahim dan makan bersama. Setidaknya
itulah budaya kami sebagai bagian dari masyarakat Nusantara.
Seperti biasa, Ibuku membuat
lontong dan memasak opor ayam.
“Mari kita makan!” pekik ayahku.
Kami mulai menyantap hidangan.
Tiba-tiba adikku Sadewa menaruh piringnya di atas karpet depan TV. Ia tengkurap
dan dengan lahap menyantap makanan sambil menonton TV.
“Jangan telentang begitu!” teriak
ibu melarang Sadewa.
“Capek, Bu. Sambil nonton TV ini
lho,” balas Sadewa.
“Makan sambil tengkurap, seperti
ular itu!” hardik ibu.
“Lha, Mas Adit dan ayah makan
sambil duduk, seperti monyet itu,” jawab Sadewa tak mau kalah.
Jember, 22 Juli 2015
Penindasan
“Kita harus melawan penindasan!
Setuju?!” teriak pembicara.
“Setuju!” balas forum. Aku tak
ikut teriak setuju. Perlu kiranya aku bertanya dulu.
“Bagi yang ingin bertanya silakan
angkat tangan,” pinta pembicara.
Aku pun mengangkat tangan.
Pembicara sepertinya tak mengindahkanku.
“Oke, kalau tidak ada pertanyaan
langsung saya lanjutkan diskusinya.”
Aku pun semakin meninggikan
tanganku. Tiba-tiba, seseorang di sebelahku ikut mengangkat tangan.
“Silakan, Mas.”
“Saya mau tanya kenapa orang di
samping saya angkat tangan tidak diberi kesempatan bertanya?” tanyanya sambil
menunjukku.
Semua orang menatapku.
“Maaf,” kata pembicara. Ia
menyilakanku.
“Saya mau tanya, bolehkah kita
melawan penindasan dengan cara menindas seperti yang dilakukan pembicara
barusan?”
Jember, 6 Juli 2015
Hati-Hati Perutmu Kaget
Di bulan Ramadhan ini, aku
nonkrong bersama teman-temanku setelah kami shalat terawih dan terkadang
tadarus di masjid kampus.
Seorang temanku, Samsul datang
ketika kami semua tengah berkumpul. Ia membawa bungkusan yang kutaksir berisi
makanan.
“Makanan, makanan. Pizza nih,”
kata Samsul.
Kami langsung berebut makanan bak
orang kelaparan. Aku tak ketinggalan.
“Dit, ini makanan mahal buat
orang kaya. Hati-hati perutmu kaget,” kata Samsul padaku.
Waktu sahur pun tiba. Masjid
kampus kami membagikan nasi bungkus untuk warga sekitar. Kami semua pun pergi
ke Masjid. Aku melihat Samsul turut.
“Sul, ini makanan murah buat
orang miskin. Hati-hati perutmu kaget,” kataku.
Kami semua pun tertawa.
Surabaya, 28 Juni 2015
Anak Kecil Juga Bisa
Baru saja bangun tidur, sore ini
aku menunggu adzan maghrib dengan bermain games
sambil sesekali membaca buku berbaring di kamar kos. Akhir pekan dan puasa
memang bukan perpaduan yang pas untuk anak kos yang cepat bosan sepertiku. Tiba-tiba,
pintu kamarku digedor begitu keras. Pintu terbuka, masuklah seorang kawanku.
“Waduh! Bangun tidur ya?” tanya
temanku itu.
“Iya. Mumpung libur, melunasi
utang tidur yang kemarin lah,” jawabku sambil tertawa.
“Enak sekali kamu tidur begitu.
Kalau puasa dihabiskan dengan tidur, anak kecil juga bisa,” seloroh temanku
itu.
“Lalu apa yang kamu harapkan?
Mengaji? Kalau puasa dihabiskan dengan mengaji, anak kecil juga bisa,” balasku.
Surabaya, 28 Juni 2015
Langganan:
Postingan (Atom)