Cincau melangkahkan kaki menuju kamar
dengan malas. Ia baru saja pulang dari bermain dengan teman-temannya. Bermain
apa? Bermain layang-layang. Layang-layang keberuntungannya itu putus. Ia baru
saja adu layang-layang bersama teman-temannya. Liburan kali ini ia habiskan
dengan bermain layang-layang. Layang-layang, yang dulu merupakan mainan
kesukaannya kini mulai ditinggalkannya. Bosan, pikir Cincau dalam hati. Nanti
aku cari mainan yang lebih asyik daripada layang-layang, kata Cincau dalam
hati.
Baru kali ini ia kalah bermain adu
layang-layang. Ia sadar, selama ini ia terlalu sombong sehingga meremehkan
lawannya. Padahal ia sudah diajari Pendidikan Pancasila di sekolah. Tidak boleh
sombong. Itu yang diajarkan Ibu Guru.
Cincau. Ya, itulah namanya. Sebenarnya
ia bernama Alfin Andriano. Bagus, bukan? Namun, karena kulitnya berwarna sawo
matang ia dipanggil ‘Cincau’. Cincau ‘kan berwarna hitam. Yang pertama kali
memanggilnya ‘Cincau’ adalah kakeknya. Hihi. Waktu itu kakek sedang menggendong
Cincau kecil, tapi Cincau kecil mengencingi kakek. Jadi kakek merasa kesal.