Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2015

Bu Risma Membatasi Penjualan Kondom


Setelah menemukan paket bir, cokelat, dan kondom di Hari Valentine yang jatuh pada Sabtu (14/2) lalu, Walikota Surabaya Tri Rismahrini melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian melarang toko swalayan dan minimarket untuk menjual alat kontrasepsi kepada pembeli yang belum menikah. Kebijakan ini dibuat untuk meminimalisir penyalahgunaan kontrasepsi.

Sabtu, 31 Januari 2015

Gara-gara Gaptek, Kurang Teliti Sebelum Membeli


Pernahkan Anda membeli barang atau jasa? Pasti setiap hari. Masyarakat modern mana yang tidak membeli setiap hari? Sehari-hari kita sebagai masyarakat era kekinian pasti melakukan pembelian barang atau jasa. Apalagi kebutuhan di era ini makin beragam saja. Sebut saja makanan, minuman, pulsa, listrik, biaya pendidikan, internet, pakaian, dan lain sebagainya. Namun apakah Anda juga berjualan setiap hari? Tidak semuanya akan menjawab iya karena memang tidak semua dari kita adalah pedagang yang menjual barang atau jasa.

Kamis, 21 November 2013

Lain Manchester, Lain Milan, Lain Menulis


Saya lelah berkali-kali menjelaskan arti off-side pada gadis saya ketika ia bertanya. Pun juga bagaimana Liga, Cup dan Liga Champion bergulir. Entah mengapa, perempuan—tanpa merendahkannya—susah mengerti arti apa yang saya sebutkan diatas. Terutama off-side. Perempuan sering kali sulit memahami arti off-side. Ya memang sepakbola lebih banyak digemari kaum adam, sehingga memang cukup menjadi hal yang tabu bagi perempuan ketika ikut menyukainya.

Kala itu saya sedang menonton pertandingan antara Italia vs Spanyol dalam Piala Konfederasi ditemani gadis saya. Ia bertanya, “Manchester City ga ikut ya?” Saya bingung menjawabnya. Lantas saya jawab pertanyaannya itu. Selesai menjelaskannya, saya mengingat kegagalan Manchester City—klub favorit saya—meraih gelas pada akhir musim 2012/2013. Ya, klub favorit saya yang menjadi juara English Premier League 2011/2012 itu gagal menjadi juara, pada The Citizens—sebutan Manchester City—terdapat banyak pemain bintang, mengingat pemilik City adalah seorang taipan Arab.

Rabu, 20 November 2013

Kertas Kosong


Rembulan belum menampakkan cantiknya. Sampai pukul 3 pagi lebih ini saya masih belum jua dapat memejamkan mata. Tadi saya sempat menguap, saya kira saya sudah hendak tidur. Nanging, ketika sudah siap untuk bertemu mimpi, saya tak bisa tidur. Lantas saya jalankan malam ini dengan membaca buku, membaca berita dan bermain game.

Baru saja saya bermain game di ponsel saya sambil mendengarkan lagu. Saya menyalakan lagu secara random. Tiba-tiba ponsel saya menyalakan lagu dari soundtrack film Gie dengan judul lagu yang sama. Saya jadi teringat akan sesuatu. Ya, teman-teman nongkrong saya memanggil saya ‘Gie’. Julukan yang cukup membuat saya senang, karena saya merasa akrba dipanggil begitu. ‘Gie’ meraung, maka dengan sigap saya menuju meja saya dan saya langsung menyatu dengan laptop saya dalam buaian kata-kata.

Hmm, semua sudah tidur ya? Sepi nyenyet. Tak ada suara apa-apa selain jangkrik dan ayam yang berkokok kepagian. Dua hari yang lalu saya masih sahur bersama keluarga. Sehari yang lalu, jam segini pula, saya asyik di depan laptop pula sambil membaca berita. Sehari yang lalu suara gema takbir ora leren-leren berkumandang. Dan sekarang keadaan sangat berubah. Setidaknya yang namanya sahur, ngabuburit, buka, terawih, tadarus akan hadir lagi setahun lagi. Itu waktu yang lama tapi saya merindukannya.

Wah, rasanya akan asyik banget lho ya kalau menjalaninya bersama keluarga. Maksud saya, sensasi yang saya dapat akan sangat uenak bila menjalani aktifitas yang saya sebutkan tadi bersama keluarga. Tak terkecuali berpuasa dan juga shalat berjamaah 5 waktu. Rasanya aktifitas itu sangat jarang saya rasakan bersama keluarga. Saya jelas tak dapat menjelaskannya di sini mengapa saya tak merasakan sensasi itu, tapi saya cukup menikmati puasa tahun ini.

Pertemanan Tanpa Pamrih


Akhir-akhir ini saya banyak memikirkan suatu hal. Tak jarang ketika saya memikirkan hal itu saya duduk sendiri terbengong dengan mata kosong dan dianggap oleh orang sekitar saya bahwa saya sedang melamun.

Biasanya teriakan mereka  berupa, ”Ngapain kamu, Dit? Ngelamun aja.”

Paling-paling saya hanya bisa menjawabnya dengan senyuman.

Tak jarang pula saya memikirkan suatu hal itu ketika sedang istirahat. Tanpa terasa saya sudah brebes mili. Saya sendiri tak tahu kenapa. Jelas hal yang saya pikirkan adalah suatu yang haru atau menyedihkan atau pun mengecewakan.

Salah satu hal yang selalu terlintas di pikiran saya adalah, apakah ketika kita melakukan suatu hal itu memang mengharap pamrih. Maksud saya, apakah kita selalu meminta timbal balik ketika melakukan suatu hal.

Dalam Malam


Sudah sebulan terakhir ini saya tidak ngeblog. Entah kenapa, jiwa saya untuk menulis jadi berkurang, bahkan mungkin tidak ada. Saya sendiri tidak tahu mengapa. Tapi saya terus berusaha untuk membangkitkan jiwa menulis saya.
Tengah mala mini, tiba-tiba saya ingin menulis, namun saya tidak tahu apa yang hendak saya tulis. Maka saya buatlah tulisan ini. Ini bukan cerpen. Bukan cerita 100 kata. Bukan puisi. Bukan esai, apalagi features.
Dalam sebulan terakhir saya tetap menghasilkan tulisan kok. Tapi saya memang belum sempat menaruhnya dalam blog, jadi mungkin bila tulisan saya itu terinspirai dari sebuah kejadian atau berita, maka akan sangat terlihat expired.
Akhir-akhir ini, saya terlalu sering nongkrong. Ngopi bersama teman-teman, mungkin ini pula yang menyebabkan saya jadi tidak produktif menulis lagi. Tapi bukankah saya pernah bilang, apapun halangan saya menulis, saya tidak akan berhenti menulis. Ternyata saya menghianati kata-kata saya sendiri. Memalukan.
Dalam malam yang gelap dan sunyi ini, saya menulis. Ketika semua teman kos saya sudah tidur, saya menulis. Saya sendiri tak tahu, apa tujuan saya menulis kali ini. Mengapa saya menulis dan merasa amat rapuhnya saya. Dengan ditemani secangkir kopi yang saya buat, saya mencoba untuk membangkitkan semangat menulis.

Hormat pada Merah Putih


Di luar sana udara sedang tak menentu. Rinai hujan turun perlahan. Saya sendiri baru sampai di tempat kos saya. Saya tidak langsung mandi melainkan membuka timeline twitter dulu dari smartphone saya. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa menjadi bahan tulisan.

Timeline atau TL memberi banyak info bagi saya. Beberapa orang seperti Sujiwo Tejo dengan akun @sudjiwotedjo berkicau dengan isi ia berharap Manchester United bisa menang melawan Tottenham Hotspur yang akan bertanding nanti malam dalam lanjutan EPL. Maklum dia pendukung fanatik Manchester United. Akun majalah sepakbola berkicau bahwa Persebaya menang atas Arema. Sedang akun teman-teman saya berkicau mengenai sesuatu yang sedang menjamur dalam dunia remaja: galau.

Bukan semua isi akun itu yang hendak saya tumpahkan di sini. Melainkan akun dari Gunawan Muhammad, seorang sastrawan, dengan nama akun @gm_gm berisi: “Menghormati bendera Merah Putih itu haram, kata Ketua MUI. Bagi saya, ‘menghormat’ beda dgn ‘mempertuhankan’.” Hal ini membuat saya tertarik untuk menulis tulisan ini.

Malas


Akhir-akhir ini saya merasa menjadi anak yang begitu malas. Ya malas dalam hal apa saja. Begitu malasnya saya. Itu yang saya rasa.

Kita rasai saja bahwa perkembangan teknologi membawa kita pada arah hedonisme. Manusia sekarang serasa diperbudak oleh teknologi. Kemudahan akses informasi membuat kita semakin dimanjakan. Ingin mencari sesuatu kita tinggal tanya saja pada Mbah Google. Pokoknya semua jadi mudah tanpa repot-repot lagi.

Ingin menulis pun juga demikian. Sudah banyak sekali media online yang menyediakan tempat untuk menulis. Jadi para penulis muda juga semakin dimanjakan teknologi. Sekali lagi teknologi membawa pada kemudahan yang berdampak pada kemanjaan.

Selasa, 19 November 2013

Palguna Palgunadi

“Maaf anak muda, aku sudah berjanji kepada Bisma, aku tidak akan menerima murid lain selain Pandawa dan Kurawa,” kata Resi Dorna kepada Palgunadi.

Palgunadi pun dengan kecewa kembali ke kerajaannya.

Itu merupakan cuplikan lakon Palguna Palgunadi, lakon wayang kulit sing paling aku sukai. Palguna kuwi nama lain Arjuna atau di Jawa biasa disebut Janaka atau Permadi. Janaka adalah murid Resi Dorna yang juga merupakan salah satu dari Pandawa Lima. Dia amat jago memanah. Tidak ada yang bisa menandingi kehebatan ilmu memanahnya. Itu semua berkat Resi Dorna, seorang guru yang luar biasa. Dan Palgunadi atau Bambang Ekalaya adalah nama seorang ksatria yang ingin belajar memanah pada Resi Dorna. Ia ingin berguru pada Resi Dorna yang katanya guru yang luar biasa. Maka dia pun meminta Resi Dorna untuk mengangkatnya menjadi murid. Tapi Resi Dorna menolak dengan alasan tersebut. Ini merupakan gambar perangai negatif dari Resi Dorna. Asu!

Palgunadi pun kembali ke hutan dan bertekad untuk menjadi pemanah yang jago. Dia membuat patung Resi Dorna. Setiap hari, sebelum latihan memanah, dia selalu berdoa dan memuja patung Resi Dorna mohon restu untuk latihannya hari itu. Mungkin lebih tepatnya berhala ya, bukan patung. Tak lupa, sekuntum bunga mawar dan voucher pulsa untuk patung Resi Dorna agar ia bisa BBMan sama istrinya yang di rumah. Sampai suatu ketika, ketika Pandawa sedang berguru, mereka terkejut melihat seekor anjing yang mati terpanah. Mereka lebih terkejut lagi melihat anjing itu pegang sebuah BB Bold, BB siapa? Eh, mereka terkejut karena nggak ada orang lain yang bisa memanah dengan begitu akurat kecuali Janaka.

Tiba-tiba muncullah Palgunadi dan dia mengaku sebagai murid Resi Dorna. Pandawa pun pulang ke Hastinapura dan menanyakan hal ini. 

“Aku udah punya BB ini lho. Seharusnya kalian tadi BBM aku dulu biar aku nggak kaget gini,” ujar Resi Dorna marah. Pandawa pun cuma diam. Cuma Bima alias Werkudara saja yang nggak diam. Dia lagi asyik BBMan sama Dewi Arimbi, istrinya. Arimbi bilang Gatotkaca sudah tidur.

Akhirnya Resi Dorna pergi menemui Palgunadi bersama Palguna (Janaka). Melihat kedatangan ‘Sang Guru’, Palgunadi pun langsung sembah sujud kepada ‘Sang Guru’. Tapi Resi Dorna malah memaki.

“Jancuk! Kamu ngaku-ngaku jadi muridku. Iki! Kok ada voucher pulsa? Buat aku saja ya,” ujar Resi Dorna pada Palgunadi.

“Inggih. Monggo pun. Pinmu berapa, guru?” tanya Palgunadi.

“Lho? Kok malah mbahas pin. Aku ke sini tadi untuk marah. Kamu ngapain ngaku sebagai muridku?!” bentak Resi Dorna.

Palgunadi tidak menjawab pertanyaan Dorna. Melainkan ia malah memanah bajing loncat yang lagi lewat. Resi Dorna kaget. Ternyata Palgunadi lebih hebat tinimbang Janaka. Janaka cuma bisa melongo. 

Palgunadi masih ngotot pengen jadi murid Resi Dorna. Akhirnya Resi Dorna meminta Palgunadi memotong ibu jarinya sebagai tanda balas jasa seorang murid pada guru.

“Lho ya jangan dong, guru. Nanti aku nggak bisa BBMan lagi,” kata Palgunadi memelas.

“Ndasmu iku, cuk! Aku nyuruh kamu motong jempolmu supaya kamu nggak bisa manah lagi. Asu!” kata Resi Dorna. Janaka terkekeh-kekeh.

“Oh, okelah.”

Dengan berat hati, Palgunadi memotong ibu jarinya. Dan terpotonglah Palgunadi sehingga ia tak bisa BBMan dan memanah lagi.

Dari cerita tersebut aku jadi terinspirasi banyak hal. Terutama kegigihan Palgunadi yang tidak putus asa untuk bisa jago memanah. Ia bahkan belajar otodidak dan malah jauh lebih hebat dari Janaka.

Palgunadi memiliki nama lain, yakni Bambanga Ekalaya. Sedangkan dalam Bahasa Sansekerta dieja dengan Ekalawya atau Ekalavya. Dalam Bahasa Sanseskerta, Ekalawya berarti orang yang memusatkan pikirannya pada suatu bidang. Ini sesuai dengan karakter Bambang Ekalaya yang hanya memusatkan pikirannya pada bidang memanah.

Kalau aku jadi Palgunadi sih, aku nggak akan ngotot untuk jadi murid Resi Dorna. Karena guru itu ada di mana-mana. Tapi apa daya. Palgunadi harus profesional dalam mendalami sebuah lakon cerita wayang. Ya itu memang nasibnya sebagai Palgunadi, jadi ya mau nggak mau dia harus ngotot. Dia juga nggak bisa protes ke dalang, karena dia Cuma sebuah wayang.

Guru ada di mana-mana. Semua orang adalah guru. Ya, menurutku begitu. Tapi secara istilah guru adalah orang yang memakai baju dinas dan mengajar murid di sekolah berbagai macam mata pelajaran. Tapi, menurutku, semua orang bisa menjadi guruku. Seorang pengamen bisa menjadi guruku. Siapa tahu dia bisa membuat hatiku terketuk untuk menolongnya dalam kesusahan. Bahkan seorang pencopet bisa saja jadi guruku. Siapa tahu dia ternyata dia hafal salah satu surat di Al-Qur’an lalu mengajariku mengaji. Siapa yang tahu.

Tulisan guru ini terinspirasi dari ketika saya tengah membaca buku Djenar Maesa Ayu yang berjudul “Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)”. Dalam ucapan terima kasih Djenar memasukkan kalimat seperti ini.

“Yang juga tidak akan pernah berubah adalah rasa terima kasih kepada ketiga guru yang sangat saya hormati, Sutardji Calzoum Bachri, Budi Darma, dan Seno Gumira Ajidarma.”

Wow, Djenar berguru pada tiga orang sastrawan yang luar biasa. Yang paling saya kenal adalah Seno Gumira Ajidarma karena ia sastrawan yang cukup produktif sehingga saya sering membaca cerpen-cerpennya. Sutardji Calzoum Bachri saya kenal ketika saya tertarik membaca buku kumpulan puisi kontemporernya yang terbilang unik. Lalu Budi Darma, saya tidak tahu banyak soal dia. Yang saya tahu adalah ia pengarang novel Olenka, yang kata seorang kawan novel itu novel yang bagus.

Wow, jadi Djenar langsung berguru pada ketiga sastrawan hebat. Jelas saja cerpennya luar biasa. Sedangkan aku sendiri, aku tidak berguru pada siapa-siapa untuk belajar menulis. Maksudku guruku yang mengajariku secara langsung tidak ada. Tapi semua orang juga mendukungku dalam hal tulis-menulis. Semua orang membuatku terinspirasi.

Jadi aku rasa, aku tidak perlu susah-susah beguru pada seseorang dan ngoyo untuk jadi muridnya. Aku tak akan meneladani sikap Palgunadi yang begini. Tapi, aku akan meneladani sifatnya yang tidak mau putus asa. Itu yang terpenting, cuk! Asu!

Jember, 21 November 2011
Aditya Prahara 

Senin, 18 November 2013

Masa Kecil

Aku melihat beberapa anak kecil sedang bermain layang-layang. Mereka terlihat amat senang sekali. Hal ini tentu mengingatkanku pada masa kecilku.

Layang-layang adalah salah satu mainan favoritku. Aku tinggal di desa. Jadi aku biasa main di sawah bersama teman-teman. Kami biasa bermain dari pulang sekolah sampai maghrib. Aku juga masih ingat betul, ibu sering marah bila aku lupa waktu. Karena di sore hari aku mesti mengaji.

Satu hal yang kusuka dari layang-layang adalah menonton pertarungan layang-layang atau di daerahku menyebutnya sambitan. Sambitan adalah adegan yang seru. Di mana sambitan ini merupakan pertarungan antar-layang-layang yang dikendalikan untuk menyambit alias memotong tali layang-layang lawan, tapi dengan cara memainkannya. Tentu senar yang baik dan berkualitas dan bisa menang. Tapi skill juga dibutuhkan. Bila salah satu layang-layang putus, maka semua anak kecil yang melihat langsung berlari sekuat tenaga untuk mengejar layang-layang. Ini adegan yang jauh lebih seru tinimbang sambitan.

Aku masih ingat, aku sering sekali mengajar layang-layang bersama teman-teman. Semakin banyak yang mengejar akan semakin seru. Bahkan aku dan teman-teman pernah hampir sampai kampung sebelah. Tapi lantaran hari semakin gelap, kami mengurungkan niat untuk mengejar layang-layang itu.

Teenlit

Apa yang ada di benak pembaca ketika membaca judul ini? Kehidupan remaja? Iya, jelas. Teenlit memang berakitan dengan kehidupan remaja.

Teenlit merupakan salah satu jenis novel remaja. Sebenarnya saya agak canggung ketika memasukkan teenlit ke dalam salah satu jenis novel, tapi untuk sementara biarkan saya memasukkannya sehingga saya mudah bercerita tentang Teenlit.

Kata Teenlit cukup jelas menerangkan bahwa isinya membahas mengenai kehidupan remaja. Kata Teenlit berasal dari bahasa Inggris yakni, Teen yang artinya belasan. Dalam Bahasa Inggris sendiri, remaja mempunyai padanan kata dengan teenager. Saya menelaah kata teenager ini berasal dari kata teen dan ager. Teen sendiri yang berarti belasan cukup jelas menerangkan bahwa teenager berarti anak-anak usia belasan alias remaja. Sedangkan Teenlit? Seperti yang saya katakan tadi, bahwa teen memiliki arti belasan. Sedangkan kata lit, sampai sejauh ini dalam Bahasa Inggris, saya tidak pernah menemukan artinya.

Maling

Maling. Sebuah kata yang cukup akrab dengan kita. Bukan berarti kita dekat maling. Namun, kata ini memang banyak dikenal oleh semua orang, khususnya di Indonesia. Untuk di luar negeri sendiri pasti juga demikian. Dan tentu saja sesuai dengan bahasa negaranya masing-masing. Di dalam bahasa Inggris sendiri ada sebuah padanan kata yang pas untuk kata ‘maling’ yakni, thief.

Mungkin bagi para pembaca yang sering membaca tulisan saya atau mengamati tulisan saya, berprasangka bahwa saya akan menulis cerita 100 kata. Saya memang sering menulis cerita 100 kata, dan di dalamnya saya berperan sebagai maling. Yang paling sering adalah pencopet. Kenapa saya suka ‘menjadi’ pencuri?

Maling, pada dasarnya adalah pencuri. Kata ‘pencuri’ ini merupakan kata umum laiknya kata ‘melihat’. Dari kata ‘melihat’ kita menemukan kata khusus seperti memandang, melirik, menonton, menyaksikan dan lain-lain. Pada dasarnya semua kata itu bermakna melihat, tapi memiliki arti dan sense yang berbeda. Kita sebagai orang Indonesia tentu bisa membedakan bahwa kata yang pas untuk disandingkan dengan televisi adalah ‘menonton’, bukan ‘melirik’. Itu dengan kata melihat.

Remang di Bus

Malam ini udara cukup dingin. Aku sedang naik bus yang akan membawaku ke Malang. Kulihat di dalam bus yang kunaiki ini hanya berisi beberapa orang saja, sekira lima belas orang. Remang lampu bus, membiaskan suasana yang kurang menyenangkan. Aku cuma memandang ke luar jendela, melihat lampu-lampu rumah yang cantik menghiasi malam yang dingin ini.

Bus berhenti di lampu merah, naiklah para pengamen dan penjaja makanan. Bus langsung ramai dengan teriakan mereka. Pandanganku tak berubah. Teriakan semakin kencang. Tapi, tak kudengar ada yang mendendangkan lagu. Ketika lampu berubah menjadi hijau, bus akan jalan. Para penjual makanan lantas turun. Tapi, tiba-tiba ada suara parau yang mengejutkanku. Ia seorang pemuda yang gagah dan tampan berdiri sedang memegang gitar. Bias remang lampu membuatku tidak bisa melihat secara jelas ke arah pengamen itu. Tapi, kutaksir ia akan mengamen, kan ia pegang gitar. Ia memakai topi, kaos oblong dan celana jeans robek di lutut. Sama dengan celanaku. Sendal jepit dengan apik menghiasi kakinya.

Bukan Sekadar Jancuk

Di sekolah, aku adalah murid yang bodoh. Bukan murid pintar yang bisa meraih peringkat satu paralel misalnya. Dan mungkin aku murid terbodoh di sekolahku. Tapi, aku merasa menikmati hidupku sebagai murid bodoh. Dan aku merasa memiliki pergaulan yang luas. Hampir semua siswa laki-laki seangkatanku di sekolahku kenal denganku dan begitu juga sebaliknya. Penjaga kopsis, satpam, penjual makanan di kantin sampai tukang kebun di sekolah kenal aku. Paling tidak mereka hafal wajahku yang asli jawa ini. Bila ketemu di luar sekolah, pasti saling menyapa. Sapaan itu akan menambah keakraban diantara kami.

Pergaulanku adalah bersama teman laki-laki di sekolah. Jelas saja. Tapi aku tidak membatasi pergaulanku berdasar gender. Aku juga banyak kenal dengan gadis-gadis di sekolahku. Pergaulan lintas gender ini biasanya membuatku akrab dengan mereka dan bisa saling berbagi, bercerita tentang apa saja. Mulai tentang belajar hingga asmara.

Musik dalam Pandanganku

Beberapa saat yang lalu, aku tidak menemukan ide untuk menulis. Padahal aku sangat ingin sekali menulis. Tapi, aku tetap tak menemukan ide. Sampai akhirnya, aku memutar waktu ke beberapa tahun yang lalu, sekitar 3 tahun lalu. Keadaan saat itu sangat berbeda dengan sekarang.

Tiga tahun yang lalu, aku tidak sedang duduk di depan laptop untuk menulis. Tiga tahun yang lalu, aku masih belum memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk menulis. Dan tiga tahun yang lalu, aku masih bingung bagaimana aku harus memulai menulis sebuah tulisan.

Tiga tahun yang lalu, aku memiliki sebuah grup band. Waktu yang tepat adalah sekira 5 tahun yang lalu, saat aku kelas 7 SMP. Ya, saat itu aku tersihir oleh eksotisnya dunia musik. Setiap hari aku bermain gitar. Grup band-ku hanya grup band amatiran. Tapi, kala itu kami sudah mencoba beberapa lagu Rock dari dalam dan luar negeri. Kami mengidentikkan diri sebagai band beraliran Rock. Dan sekarang itu membuatku berpikir, kenapa aku tidak menulis tentang musik saja.

Menabung Air Bersih


Akhirnya aku dimarahi habis-habisan oleh ibuku. Aku telah mandi selama 30 menit. Selain itu, air dalam bak mandi yang semula penuh tinggal seperempat dari semula. Ibu bilang aku sangat memboros air karena telah membuang air secara percuma. Aku menyadari hal itu. Aku tahu ini tidak baik.
Air merupakan sumber kehidupan. Dengan air, kita dapat melakukan aktifitas harian kita dengan lancar. Tahukan kamu? Aktifitas itu seperti; mencuci, mandi, memasak, pengairan sawah, untuk minum dan lain-lain. Coba bayangkan seandainya hidup kita tanpa adanya air, pasti kita tidak bisa melakukan aktifitas harian kita. Oleh sebab itu, air merupakan kebutuhan pokok bagi kita.
Seperti yang sudah aku ceritakan tadi di awal, aku telah memboros air. Ini kebiasaan yang tidak baik. Oleh sebab itu, jangan ditiru. Karena, air itu sangat penting dan tidak boleh dihabiskan. Aku sangat bersyukur, di daerahku tidak ada yang kekurangan air bersih. Berarti banyak pula orang-orang yang menghemat air. Jika aku membuang-buang air secara percuma, berarti aku telah membuang kebutuhan kita secara percuma. Apalagi air bersih.

Kebutuhan atau Keserakahan


Terkadang, kita tidak menyadari apa yang telah kita lakukan ini sebuah hal yang harus diperhatikan sungguh-sungguh. Memang kedengarannya sangat berlebihan jika saya menulis seperti ini. Pasalnya, orang yang cerdas itu pasti akan berfikir dahulu sebelum bertindak. Tentu saja, orang cerdas tidak akan bertindak gegabah. Kalaupun ia terdesak oleh suatu hal, ia harus tetap dapat mengambil keputusan yang tepat. Ingat, kita bisa tersedak karena terdesak. Ini bukan hal remeh-temeh.
 Manusia ini hidup memiliki banyak kebutuhan. Baik primer, sekunder ataupun mewah. Nah, itu dibahas pada mata pelajaran ekonomi, sekarang kita alihkan sejenak dan kita bahas kebutuhan pada remaja.
Remaja, pada masa ini kita mengalami masa pembelajaran yang cukup serius. Karena, masa ini adalah masa peralihan seorang anak menjadi dewasa. Terlebih lagi, remaja pada zaman kita ini disebut-sebut telah mengalami kemerosotan moral. Ini akibat dari gaya hidup yang serba mewah dan tidak memikirkan akibat dari apa yang akan dilakukan. Bertindak ceroboh salah satu sifat umum remaja zaman sekarang.

Arus Zaman


Kelas begitu ramai. Aku sebagai ketua kelas hanya geleng-geleng melihat teman-teman “memporak-porandakan” kelas ini. Ada yang sedang bermain laptop, bermain handphone, tidur, berbincang-bincang, membaca buku dan sebagainya. Lalu, apa yang membuatku dengan mudah mencentang kata “memporak-porandakan”? Tak ada guru yang masuk di kelas kami. Beliau sedang ke luar kota. Padahal, sebenarnya kami diberi tugas. Namun, tugas itu seperti angin berlalu. Bangku kelas kami benar-benar parah. Jungkir balik tak karuan. Entahlah. Mungkin di kelas ini tak ada siswa yang ingin menjadi penata kota.
Satu hal yang membuatku agak ‘stres’ akan keadaan kelasku ini. Bagaimana aku mempertanggung-jawabkan kelakuan teman-temanku di akherat kelak. Aku pemimpin mereka. Tapi, sama sekali tak didengar. Sering kali aku mengingatkan diriku sendiri. Ini cobaan dari Gusti Allah, atau mungkin latihan menjadi pemimpin untuk kelak. Tidak. Aku tak boleh stres. Aku masih muda. Masih banyak cita-cita yang harus ku raih.

Irisan dan Gabungan

Irisan dan Gabungan. Ini merupakan materi dalam mata pelajaran Matematika. Ehm, benar-benar menarik untuk memepelajari mata pelajaran eksakta ini. Aku sudahj akrab dengannya sejak TK. Mulai soal sederhana, soal cerita sampai pemecahan masalah sudah bukan hal tabu lagi. Kadang aku merasa Matematika itu sulit. Tapi Guru SD-ku pernah berkata.

Le, kalau kamu menganggap Matematika itu sulit. Ia akan menjadi hantu bagimu. Hantu itu akan mengintai dan mengancammu. Tapi, jika Matematika menjadi sahabatmu, ia pasti sudah akrab denganmu.”

Uhm, romantis sekali. Aku memang gemar dengan mata pelajaran ini. Asyik sekali bermain dengan angka-angka yang berebut tempat ada di depanku.

Tapi, bagaimana jika salah satu materi Matematika ku eksploitasi? Irisan dan Gabungan.

Karena Cinta

Seorang wanita berlari mengejar bus kota yang berhenti di halte bus sambil menggendong anaknya. Si kecil mungil itu hanya bisa tersenyum. Tak tahu mau dibawa ke mana oleh sang bunda. Tapi, ketika sang bunda sampai di halte bus itu berjalan menjauh darinya. Si kecil hanya bisa tersenyum. Tak tahu mengapa ibunya menggendongnya sambil mengejar bus itu. Ibunya pun menoleh si kecil sambil membalas senyumannya. Tapi, senyuman sang bunda adalah senyum getir yang dipaksakan. Sang bunda pun meletakkan tangan di depan dada. Sambil mengucapkan, “Subhanallah.”

Di tempat lain, seorang ibu setengah baya bersama anak perempuannya duduk di lantai terminal. Tangannya menengadah meminta bantuan. Ia dan anaknya belum mendapat suapan nasi sedari pagi. Sedari tadi ia hanya minum air putih. Ketika ada orang menjatuhkan koin, buru-buru ia mengambilnya. Anaknya memegang perut merasa kelaparan. Ibunya pun tak kalah lapar. Karena bingung melihat anaknya yang hanya diam, tapi sebenarnya ia tahu kalau anaknya merasa lapar. Mungkin anak itu takut dimarahi jika menanyakan tentang makanan. Si anak hanya memandangi wajah ibunya yang gelisah. Sudah seharian mereka puasa. Si anak lalu memeluk ibunya laksana ketakutan diterjang tsunami kemiskinan.