Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Mari Berjuang Bersama


Langkah kaki berderap bersama
Angkat tangan kiri kita semua
Menyanyikan lagu perjuangan di depan mereka
Rebut kemenangan untuh raih merdeka
Inilah perjuaran kita!

Kamis, 21 November 2013

Tembok Ini Memang Tak Tinggi


Tak ada angin di sini
Aku duduk bersila sendiri
Udara seperti enggan kemari
Lantaran tempat ini memang begitu keji
Begitulah pandangan semua orang terhadap jeruji
Mereka pikir aku ini tak akan terampuni
Aku memang pantas begini
Diperlakukan bagai babi
Begitu dihindari

Tak ada suatupun yang kubisa
Tapi aku tak bisa beranjak dari sini
Pun jua aku tak bisa meluruskan kaki
Pun jua aku tak bisa tegak berdiri

Dusta


Aku berjalan perlahan ke arah utara
Peluh membasahi dahi ini membuatku mengusapnya
Kulihat jalan ini cukup ramai dengan hiruk pikuknya
Namun, kupandangi beberapa orang melihatku jua

Kulihat abang cendol melayani pembeli
Ia kewalahan melayani mereka sendiri
Tiada seorang pun membantunya mengorek panci
Pembeli semakin bringas meminta dilayani sambil memaki
Abang cendol tetap sabar melayani, mengelap peluh di dahi
Caci maki minta dilayani semakin kencang, hawa begitu keji
Terik matari cukup membuat manusia tak dapat mengontrol diri

Aku tergoda membeli cendol jua tapi kuurungkan
Aku ingin terus berjalan

Kulihat abang soto tak jauh berbeda
Dikeroyok masa minta makan demi tiada kelaparan
Abang soto sedikit jengkel manusia itu tanpa etika
Menggebrak gerobak soto dengan keras suasana kacau nian
Panas matari begitu kejam menyiksa kami semua
Tak terkendali beberapa orang membanting mangkok hinggan berceceran

Aku tergoda membeli soto jua tapi

Rabu, 20 November 2013

Aku Masih Ingat Betul, Kawan


Aku masih ingat betul, kawan
Saat pagi betul dating ke sekolah
Bukan lantaran semangat belajar tanpa jengah
Tapi untuk sekadar menyalin tugas sejarah
Tanpa malu berseragam sekolah menengah

Aku masih ingat betul, kawan
Saat jeda istirahat telah tiba
Kita bersama menuju toilet tua
Untuk sekadar masturbasi bersama
Untuk sekadar sebatang udud berlima

Aku masih ingat betul, kawan
Saat kita mengumpulkan uang
Saat Jack-D adalah tujuan
Saat kita pusing baru satu putaran
Saat kita kencing di batu nisan

Aku masih ingat betul, kawan
Di bulan suci Ramadhan itu
Saat senja siap bercumbu
Saat ngabuburut kita bertujuh
Saat adzan maghrib terdengar merdu

Aku masih ingat betul, kawan
Di jumat, menikmati terik matahari
Kita pergi bersama ke masjid jami
Bersembahyang dengan khusyuk kepada ilahi
Kita berdoa dengan setulus hati

Aku masih ingat betul, kawan
Saat ujian telah tiba
Saat bertobat kepadaNya
Kita belajar demi orang tua
Kita belajar meraih cita-cita

Aku masih ingat betul, kawan
Saat aku sedang gundah
Saat aku tengah jengah
Saat kalian menghiburku tanpa lelah
Saat kalian mengajakku berkemah

Aku masih ingat betul, kawan
Kita pergi ke taman kota
Kita nongkrong di sana
Kita bergurau dan dan bercanda
Kita tersenyum bahagia di sana
Aku masih ingat betul, kawan
Surabaya, 6 Oktober 2012

Aditya Prahara

Ayah


Ayah…
Aku menganggap dirimu adalah guruku
Mengajariku menulis dan membaca buku
Mengajariku mengaji dan membaca kitab suci
Tapi, guru tidak akan marah tanpa alasan secara tiba-tiba

Ayah…
Aku mendekatkan diriku padamu
Tapi, kau asingkan dirimu
Aku mengasingkan diriku padamu
Tapi, kau dekatkan dirimu
Dan kita memang tak pernah kenal

Carilah Bahu Baru


Sejadahku basah
Kokohku lusuh
Aku bersimpuh
Menangis sejadinya

Tanganku tak lagi bisa menggandeng tanganmu
Bibirku tak lagi bisa mencium bibir manismu
Tanganku tak lagi bisa membelai rambutmu
Mataku tak lagi bisa melihat senyum manismu
Telingaku tak lagi bisa mendengar desahmu
Hidungku tak lagi bisa membau kasturimu

Memoriku


Serpihan kayu itu
Membuatku jadi rindu
Pada secuil kenangan masa lalu
Bersama dirimu, Annelieseku

Jancuk dan Asu


Pengantar:

Wah saya ndak tahu ini harus ngomong apa. Soalnya saya mesti kekel tiap mau baca apa yang akan saya tulis ini. Jadi gini, yang hendak Anda baca di sini sebenarnya sebuah lirik lagu. Saya amat menyukai lagu dari Koes Plus yang berjudul ‘Manis dan Sayang’. Setiap saya main gitar, seolah lagu ini adalah lagu wajib untuk saya mainkan. Lha, karena lagu ini, saya jadi terinspirasi untuk memlesetkan lagu ini jadi sebuah lagu yang esip. Anda mau menyebutnya sajak juga ndak papa kalau ndak tahu lagu aslinya. Kalau tahu lagu ‘Manis dan Sayang’, yang cobalah dinyanyikan.

Tapi untuk menyebutnya sebuah sajak ya nggak pantas juga, karena sangat blak-blakan (kayak judul lagunya Sujiwo Tejo), be transparent. Bila menyebutnya sajak ya sangat ndak puitis karena terkesan vulgar. Riffattere mendefinisikan sajak sebagai ‘mengatakan sesuatu artinya lain’. Definisi yang tidak cocok dengan sajak ini yang amat terang dan tidak sembunyi-sembunyi. Tapi ya sebut saja demikian lah.

Coba simak:

Anggota DPR korupsi
Jancuk, jancuk, jancuk
Anggota DPR ngelonte
Asu, asu, asu

Remang


Dendang lagu kumandang
Euforia suka cita bahagia
Lembut hidup sebut
Angguk mulai kantuk
Peri beri lagi hati
Angan terbang tangan
Nikmat peluk erat

Ranjang


Debar dan desir
Erang dan desah
Lenguh dan sentuh
Anggun dan bangun
Peluh dan aduh
Angin dan dingin
Nikmat dan erat

Dalam Malam


Lelap di atas papan kayu
Berselimutkan angin malam nan dingin
Bergidik akan bulan pergi ke peradu
Semakin gencar hembusan angin beringin

Bukan halangan bukan halauan
Sebuah kecup rindu tetap untukmu
Betapapun aku kesepian
Engkau tetap gadisku

Senyum Manis


Telah kulihat sliramu
Ingar bingar senyum manismu
Fana-abadi bukan soal
Aku suka senyummu
Lahirkan terus senyum itu

Selasa, 19 November 2013

Hati yang Ragu


Aku duduk terdiam di sini
Pun juga dengan dirimu
Rakit rekat telah terpatri
Lantaran begitu kuatnya aku
Lantaran begitu kuatnya kamu
Indah memang
Zapin berkumandang
Alangkah indahnya

:|

Sunyi
Sepi
Sendiri
Kosong
Bolong
Hilang
Teang
Dan sekarang
Mati
Lagi

Jember, 1 Desember 2011
Aditya Prahara

Aku adalah Anumu

Mengaku cinta
Tapi memalingkan muka
Mengaku sayang
Tapi enggan ke ranjang
Mengaku kasih
Tapi selalu berselisih
Lantas kau bilang padaku
“Apalah arti hidup bila
tanpa berselisih, gadisku.”
Aku menundukkan kepala
Aku merasa nestapa
Karena aku tak bisa berbuat apa-apa
Aku hanya duduk termangu
Aku adalah anumu
Jember, 30 November 2011
Aditya Prahara

Aku Anu Padamu


Bayang sehasta peluk hangat
Bayang segenggam tangan erat
Bayang sebersit senyum manis bak madu
Bayang sekecup ciuman rindu
Bayang datang
Bayang cuma kenangan
Bayang imajinasi
Bayang, aku anu padamu
Bayang harapan bersua
Bayang tak terkabul jua
Bayang bercinta berdua
Bayang bila kita sudah tua
Bayang, aku anu padamu
Bayang hidup bersama
Bayang merasa bahagia
Bayang, aku tetap anu padamu
Jember, 27 November 2011

Aditya Prahara

Cinta Tanpa Tanda


Samudra bergelombang
Bumi tergoncang
Langit kelap-kelap
Bau udara nan pengap
Beribu gaduh maki-puji terurai
Drama pun dimulai
Mencoba merasakan cinta
Hangat peluk erat darinya
Merasakan kecupan manis di bibir
Biar orang lain mencibir
Lantas, kumatikan pancaindra
Mencoba merasakan indahnya
Cinta tanpa tanda

Jember, 21 November 2011

Aditya Prahara

Senin, 18 November 2013

Satu Untuk Bebas


Orang bertanya
Kapan kita benar-benar bebas
Bebas dari belenggu
Merasakan bebas merdeka
Hak asasi telah dirampas
Mari kita bersatu, untuk Indonesiaku
Jember, 19 November 2011

Aditya Prahara

Lariku


Mengapa harus malu
Aku bukan benalu
Aku cuma ingin banyak tahu
Dan ingin banyak ilmu
Aku tak sembarangan
Coba untuk kutelaah
Kuhayati dengan penuh perasaan
Bukan kutelan mentah-mentah
Pergi berlari
Mengejar mimpi
Menjemput bisikan hati
Mencoba memperkaya diri
Ilmu untuk dipelajari, bukan ditakuti
Jember, 19 November 2011

Aditya Prahara

My Life


Wind blows slowly
The wet of water
The hot of fire
The hard of ground
My life, surround me
Part of my life
Even it’s, my wife
I am happy
I am hungry
There’s no attention
From the government
My life, the fucking government
The don’t see me
My life
I am still hungry
Jember, 17 November 2011

Aditya Prahara