Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Jangan Bersedih

Ilustrasi
Siang ini terik matahari begitu terasa menyiksa. Aku tadinya tengah asik berbincang dengan seorang temanku, Roni, di kantin sampai akhirnya ia pamit untuk ke toilet. Aku memandangi satu per satu setiap orang yang ada di dalam kantin ini. Semua berjalan terlalu biasa.

Sabtu, 09 Januari 2016

Raibnya Sila Kelima

Ilustrasi Pancasila
Pagi ini upacara bendera seharusnya berjalan seperti biasanya. Ini masih seperti biasanya kendati terik matahari begitu menyengat kulit kami. Hembusan angin cukup menyegarkan tapi tak menyelamatkan kami dari kejenuhan. Kejenuhan yang terus terpelihara karena upacara bendera tak merasuk ke dalam hati.

Selasa, 03 November 2015

Saya Memilih, Kami Memilih

Ilustrasi - mural perlawanan (kfk.kompas.com/Singgih Aditama)

Entah dosa apa yang telah dilakukan oleh tanah ini sehingga air tak kunjung juga turun di sini. Mentari Surabaya begitu teriknya sampai saya harus membuka kemeja agar angin berkenan bersua dengan kulit saya. Tengah hari memang begini adanya hawa di Surabaya. Sudah lelah kuliah sedari pagi, hujan enggan menghampiri, kini perut minta di isi. Saya memilih ke kantin agar perut tak menjerit lagi, mungkin sekadar makan bahkan juga bisa diskusi.

Jumat, 20 Desember 2013

Ia Selalu Bersama Saya


Ia adalah orang yang sangat luar biasa. Saya rasa tak ada yang berlebihan bila saya mengatakan begitu, karena memang begitu adanya. Dan saya rasa, memang setiap orang punya pahlawan dalam setiap hidupnya. Dan ia adalah pahlawan dalam hidup saya.

Sudah 19 tahun saya hidup di planet urutan ketiga terdekat dengan Matahari setelah Merkurius dan Venus ini—bebegitulah kata para ahli. Dan ia memang selalu ada di samping saya. Ketika saya membaca buku, ia ada di samping saya. Ketika saya sedang berdoa, ia ada ada di samping saya. Tak terkecuali ketika sekadar buang hajat, ia terngiang di otak saya.

Mula-mula, ia yang mengajari saya membaca. Sekadar melafalkan A, B, C dan seterusnya, ia mengajarkan kepada saya untuk mencintai buku. Ia membelikan saya banyak buku atau majalah atau apapun agar saya bisa membaca. Ia pula yang mengajari saya agar dapat membaca huruf hijaiyah sehingga saya bisa membaca kitab suci agama saya. Ia juga mengajari saya berhitung. Ia mengajari saya beberapa Bahasa Inggris dengan kosakata benda-benda yang ada di sekitar saya. Semua itu ia ajarkan kepada saya ketika saya masih belum sekolah sampai saya masuk SD.

Selasa, 03 Desember 2013

Macamnya Macam-Macam


Aku memetik gitar yang ada di pangkuanku ini perlahan-lahan. Aku mainkan lagu ‘Si Gembala Sapi’. Entah mengapa, aku amat menikmati nada-nada dari setiap petikan gitarku ini. Aku amat menghayati setiap dentingan suaranya, pun jua liriknya yang aduhai.

Gembala Sapi perlahan membiusku. Aku berandai, tentu amat sangat senang sekali bila aku bisa menjadi seorang penggembala sapi.

Tiba-tiba ada yang menggebrak pintu kamarku hingga terbuka.

“Nah, lihatlah dirimu, Nak. Setiap hari kerjamu hari bermain gitar yang usianya sudah jauh lebih tua dari kakekmu itu. Selesaikanlah skripsimu itu. Jangan hanya duduk bermuram durja seolah usai putus cinta. Tapi pikirkan muram durjamu itu lantaran kau tak jua memberi Ibumu sepesermu uang,” semprot Ibu.

“Ibu mau apa?” tanyaku.

“Dasar anak kurang ajar. Mengapa kau angkat alis tipismu itu?! Mau melawanku?!” bentak Ibu keras minta ampun.

“Ah, Ibu selalu begitu padaku. Mengapa Ibu selalu saja memarahiku.”

“Bagaimana mungkin Ibumu ini tak marah. Sampai kapan kau menjadi mahasiswa yang tak kunjung lulus begini?!” bentak Ibu lebih keras lagi.

“Sampai waktunya aku berhasrat menulis lah, Bu,” balasku.

“Nah, itu dia. Hendak jadi apa kau bila tak lulus begini?”

“Aku ingin jadi penggembala sapi sajalah. Bolehlah berkhayal barang sebentar menjadi seorang juragan sapi sambil menjadi penggembala sekaligus.”

“Tak elok kau rasanya hidup bersama sapi. Kau seharusnya di sana, di gedung yang aduhai megahya bak tempurung kura-kura kembar itu. Jadilah pegawai di sana. Pakai baju safari. Dan dapatkan pensiun. Kan begitu enak. Jangan macam-macamlah.”

“Juragan sapi lebih menjanjikan, Bu. Bayangkan...”

Rabu, 20 November 2013

Panas Matahari


Aku melangkahkan kaki dengan lunglai. Rasanya ingin aku memutar balik badanku dan kembali ke tempat di mana aku berada seharusnya. Bukan di tengah lapangan sekolah dan bertarung dengan teriknya matahari macam ini. Bukan sedang hikmad menyanyikan Indonesia Raya seperti sekarang ini. Bukan tengah mendengar sepotong pidato dari seorang koruptor yang penuh dengan bualan-bualan gratisan. Bukan sedang berbaur dengan teman-teman sekolahku yang menjalani hidup dengan lurus-lurus saja.

Pidato dari kepala sekolah membuatku muak. Kata-kata munafik mengucur deras keluar dari congornya.

“Sebulan lagi, siswa kelas 3 akan menghadapi ujian nasional. Banyak-banyaklah belajar agar dapat menghadapi ujian dengan baik,” katanya.

Logisnya ketika kami diminta untuk membayar sejumlah uang untuk mengurus ujian dan tetek bengeknya, kami mendapat pelayanan yang baik untuk persiapan belajar. Pada kenyataannya, kepala sekolah itu baru saja membeli mobil baru. Aku tak tahu uang itu dari mana. Entah dari dia memiliki usaha, menabung bertahun-tahun, atau memang uang dari kamu. Kalau yang terakhir itu benar, berarti kamu patungan untuk membeli mobil ketujuh kepala sekolah berkacamata tebal ini.

Pun, aku tak tertarik untuk giat belajar. Emosiku bisa memuncak ketika panas matahari menguasaiku begini. Dan memang emosiku hanya memuncak ketika ada panas matahari.

Plak! Ada yang memukul kepala aku dari belakang.

“Waktu upacara malah garuk-garuk kemaluan. Ayo yang bener tangannya,” kata Supardi, guru Olahraga, mengawasi peserta upacara.

Aku diam. Aku ingin upacara cepat selesai.

Terik matahari membuatku sangat jengah. Posisi istirahat di tempat tak cukup membuatku nyaman. Aku pun mengelap peluh yang ada di kepala aku.

Plak! Lagi.

Aku membalikkan badan. Supardi melotot.

“Jancuk! Aku tahu kamu guru. Tapi kamu nggak berhak memukul kepalaku!”

Hujan Deras


Udara dingin langsung menampar saya, ketika saya membuka pintu depan rumah. Hujan turun dengan amat deras. Saya khawatir pada Doni, kekasih saya, yang dalam perjalanan ke mari. Kali ini hujan turun dengan disertai angin yang luar biasa.
Ketika Doni main ke sini, hujan selalu turun. Saya sendiri heran mengapa demikian. Maka mau tidak mau, ketika hujan saya selalu ingat pada Doni.
“Tahukah kau, siapa orang yang paling tak berperasaan sedunia? Ia adalah orang jauh dengan kekasihnya saat hujan, tapi tak menghasilkan satu pun puisi,” ujar Doni suatu ketika.*
Hujan membuat saya amat rindu pada Doni. Di telinga saya terngiang lagu Hujan Deras yang merupakan lagu kesukaan Doni.
Udan deres wor tinretes waspa
Pangrantese tangis ngeleb pipiku
Guntur gumbludug muntabke kilat
Mangkilat-kilat kinclong pipiku**
Amat jelas di telinga saya. Bahkan nyanyian itu juga diiringi dengan suara saksofon, gamelan dan violin. Hujan semakin deras dan Doni belum juga datang.

Serius atau Main-main


Lemari itu sudah lebih dari 50 tahun ada di kamar kos ini. Bisa dilihat dari bentuk dan terlihat kuno. Ada sedikit pahatan di ujungnya. Debu menempel deras di sana. Menandakan sang pemilik kamar jarang membersihkannya. Entah tak peduli atau tak sempat, yang jelas dengan debu yang menemaninya di sana, itu akan membuat Lemari itu semakin kuno.
Di sebelah Lemari terdapat sebuah Cermin besar yang dipasang di dinding. Cermin itu selalu menemani pemiliknya ketika bersolek. Si Cermin terlihat jauh lebih bersih dibanding si Lemari. Menandakan pemiliknya amat peduli dengan si Cermin. Bahkan terdapat beberapa hiasan berwarna merah jambu agar terlihat lebih feminim.
Di ujung kamar, di sebelah pojok terdapat sebuah Meja. Di atasnya terbaring beberapa buku yang sedikit kumal. Buku-buku nampak seperti buku bekas, dari tampangnya. Bila dibuka pasti ada halaman yang robek atau kucel.
Di sebelah Meja, terdapat sebuah ranjang empuk yang nyaman. Sprei bergambar Teddy, amat cantik dan pas. Di atas ranjang empuk ini, si pemilik bebas berbuat apa saja. Terlihat dari beberapa barang yang ada di atasnya terletak tak keruan. Di pojok ranjang, terdapat sebuah sejadah dan sebuah mukena. Di ujung lain terdapat baju-baju yang tak dilipat.

Derby Hastinapura (Wayang Durangpo)


Ee lah dalah, Yudhistira terlihat bete di pagi yang cerah ini. Gerangan apakah yang telah membikin sulung Pandawa itu sedih? Ia duduk di pinggir kolam kerajaan sambil melamun sedari tadi.
Ketika lagi asyik sedih, tiba-tiba datanglah Bagong menghampiri Yudhistira.
“Lho, ada apa, Prabu? Kok kayaknya kelihatan sedih?” tanya Bagong.
“Aku kalah taruhan, Gong. Sial betul,” jawab Yudhitira sambil sesekali melempat kerikil ke kolam.
“Lho kan memang sudah ceritanya begitu. Prabu Yudhistira kalah taruhan sama Kurawa. Semua yang dimiliki oleh Prabu mulai kerajaan, adik-adik Pandawa, Dewi Kunti—ibu Yudhistira, dan Drupadi—istri Yudhistira, Prabu  pertaruhkan kan? Sudahlah terima saja. Memang begitu isi kitab Mahabarata.”
“Iya, Gong. Aku terima nasib. Seharusnya aku marah sama yang bikin cerita saja ya. Atau mungkin aku nggak usah jadi Yudhistira saja supaya aku nggak sedih gini,” ujar Yudhistira sambil menitikkan air mata.
“Iya, sing sabar ya. Makanya jadi panakawan aja. Enak. Saya saja bahagia lho jadi panakawan.”
“Iya ya. Tumben kamu mikir cerdas, Gong.”

Derby Manchester


Menjelang Derby Manchester, saya selalu memakai jersey tim kebanggaan saya, Manchester City. Kapan saja saya pergi saya memakainya. Ke mana saja saya pergi saya memakainya. Pergi ke mal untuk sekadar melihat SPG yang cantik. Pergi ke tempat perek untuk sekadar ngelonte. Pergi ke masjid untuk memanjatkan doa. Bahkan juga pergi ke kakus untuk sekadar berak pun.
Saya amat menyenangi tim ini. Tak peduli sudah berapa lama saya memakainya tanpa mencucinya. Toh badan saya juga tidak gatal kok. Saya senang-senang saja. Ke mana pun saya pergi saya selalu bangga untuk mengucap Superbia in Praelia. Bisa dibayangkan kan bagaimana cintanya saya.
Derby Manchester sudah semakin mendekat. Tujuh hari lagi. Saya semakin bangga memakainya. Saya tak peduli dengan keluhan istri saya soal bau busuk yang keluar dari baju ini. Mungkin dia memang tak tahu apa arti cinta.

Selasa, 19 November 2013

Aku Masih di Sini

Aku sendirian di sini. Tanpa seorang kawan. Tanpa seorang lawan. Apalah arti hidup bila tanpa kawan. Apalah arti hidup bila tanpa lawan.

Di dalam ruangan yang pengap ini, aku berusaha menikmati bunga tidurku dengan lelap. Tapi tak ada cahaya di sini, gelap. Yang kubisa hanya berharap. Keluarkanku dari sini. Ajak aku pergi berlari. Ke mana saja menurut langkah kaki. Aku ingin pergi.

Namun, di luar sana begitu mencekam. Jerit tangis suara seram. Tak bisa aku mendengarnya. Mungkin di sini tempatku. Mungkin ini takdirku. Mungkin di sini tempat yang baik bagiku. Mungkin di sini tempat yang laik bagiku.

Ya, aku ingin di sini saja. Walau aku hidup merana tanpa daya. Tanpa ada pertolongan dari kawan. Tanpa ada ancaman dari lawan. Tapi bukankah Tuhan sudah menyatatnya di zaman Azali? Mencatat waktku hidup dan mati? Ya aku ingin di sini. Ini tempatku. Ini surgaku.

Dewi Malam yang Dingin

Hujan baru saja reda. Udara malam jadi dingin. Di taman kota terlihat beberapa pasang kekasih sedang bermesraan. Sepasang kekasih terlihat berlari menuju sebuah bangku tangan sambil berpegangan tangan erat. Seolah mereka tak dapat dipisahkan atau tak mau dipisahkan. Sesampainya di bangku taman, mereka berhenti sejenak sebelum menduduki bangku tersebut.

Aditya dan Wulan. Aditya yang bertubuh tinggi tegap, tangan kanannya membersihkan bangku taman yang kotor dan basah. Sementara tangan kirinya masih berpegangan erat dengan tangan kanan Wulan. Wulan tersenyum melihat Aditya.

“Silahkan duduk, gadisku,” ujar Aditya.

“Terima kasih, satriaku,” balas Wulan sambil tersenyum manis.


Sepucuk Surat untuk Anakku

"Untuk anakku,

Tiada yang lebih bangga selain bisa bertemu denganmu, anakku. Sama seperti Adam bertemu Hawa, pada dasarnya Hawa adalah anak Adam. Sama halnya seperti Rahwana dan Dewi Shinta, pada dasarnya Dewi Shinta adalah anak Rahwana. Tapi sang bapak jatuh cinta pada anaknya. Anaknya. Apa aku salah bila aku jatuh cinta pada anakku?

Tapi apa aku akan menjadi Rahwana atau Adam? Itu kehendak Tuhan, anakku. Dan itu tergantung hatimu.

Relakah kau aku seperti Rahwana? Menculikmu, dan kau tak mencintaiku?

Atau relakah kau aku seperti Adam? Melanggar titah Tuhan dan menyeretmu menuju kehidupan yang tak lebih baik dari kehidupan sebelumnya?

Senin, 18 November 2013

Sudah Lama

Aku berjalan perlahan-lahan menuju sebuah ruangan yang amat sunyi. Kubaca sebuah kata yang tertera di atas pintu itu: PERPUSTAKAAN. Indah sekali kata itu.

Kucoba untuk membuka handle pintunya. Secara perlahan aku mendorong pintu sembari tangan masih di engsel pintu. Bunyi suara ‘sret’ terdengar jelas laiknya film horor tanah air. Aku tak tahu seperti apa kelanjutan peristiwa yang akan kualami. Apakah akan ada pocong ngesot. Atau kuntilanak lupa daratan. Entahlah. Aku masih mencoba membuka pintu. Dan pada akhirnya aku berhasil masuk ke dalam ruangan sunyi ini.

Lega rasanya. Kututup kembali pintunya. Aku maju selangkah. Kupandangi seluruh isi perpustakaan ini. Tepat di depanku sekira 5 meter, ada 6 perangkat komputer yang tak berpenghuni. Layar monitor berwarna hitam yang menandakan bahwa komputer sedang mati. Kulirik ke sana ke mari. Dan yang kudapat adalah seorang pria memakai batik dan celana panjang hitam tengah membersihkan rak yang ada di sebelah kananku dengan menggunakan kemoceng. Pria berkacamata ini nampaknya tak mengindahkan kedatanganku. Pun aku juga tak mengindahkannya. Aku ingin mencari pencerahan di sini. Lampu 20 watt ini cukup jelas membuatku bisa menatap seluruh ruangan yang di dominasi oleh rak yang berisi buku.

Menjilat Ludah Sendiri

Pagi yang indah sekali. Aku keluar rumah dengan memakai sepatu olahraga, kaos dan celana pendek. Akan keluar untuk jogging pagi. Mentari bersinar cerah menampakkan wajah dan hangatnya. Sudah beberapa kali ini sang mentari enggan menampakkan hangatnya. Dan kini mentari berani lagi untuk memberi sinar pada makhluk hidup di bumi. Aku pun membalas hangatnya mentari dengan berolahraga.

Di jalan, banyak sekali orang yang sedang lari-lari dan berolahraga. Ada muda-mudi berpasangan yang jogging bersama. Ada pula kaum manula. Ada pula muda-mudi yang berkoloni. Mungkin teman kelompok atau geng. Hari minggu. Tentu waktu luang untuk olahraga. Aku sendirian di keramaian pagi. Tiba-tiba ada gadis menyapaku.

“Selamat pagi, Tuan Sena.” Aku sempat terkejut. Lalu ku lihat gadis itu. Lari-lari kecil menyampingiku. Memakai kerudung. Memakai trining dan kaos olaharaga lengan panjang. Ia begitu anggun.

Pemacu Semangat

Aku kini hanya seorang pecundang
Tak akan gusar dengan kata-katanya
Ku terima saja
Dia hanya celeng kemunafikan

Itu syair yang ditulis oleh Doni. Ia bilang belum selesai. Aku, Rendi dan Doni sedang berada di rumah Doni. Sedang berdiskusi dan belajar bersama. Aku merasa tersinggung dengan syair yang dibuat oleh Doni. Keterlaluan.

“Boy, apa ini?” tanyaku.

“Itu hanya syairku. Tak ada apa-apa. Aku hanya sedang ingin menulis syair,” ujarnya.

Sementara aku dan Doni sibuk bertengkar, Rendi sedang asyik dengan Ensiklopedia Biologi. Si Calon Dokter—ia bilang begitu—itu memang menyukai buku Biologi sejak sekolah dasar—katanya.

Si Kaya Dolah

Pasar merupakan tempat yang tak asing lagi bagi masyarakat desa. Tempat transaksi jual beli ini memang tempat wajib berbelanja bagi kaum hawa. Meski sudah banyak berdiri supermarket dan minimarket, sepertinya ibu-ibu sudah merasa cocok dengan pasar tradisional ini. Laksana kutub utara dan kutub selatan pada magnet yang saling tarik menarik. Bahkan pasar dipelajari dalam mata pelajaran Ekonomi—memang harus dipelajari.

Bau ikan, sayur, kue dan segala macam makanan menjadi satu. Ada penjual kue tradisional, daging, sayur, pakaian poster, sembako dan lain sebagainya.

Dolah melangkahkan kaki dengan sombongnya. Ia diikuti oleh dua pengawalnya. Yang jelas bukan Pspampres. Badannya besar. Kulitnya hitam legam. Wajahnya garang seperti macan yang siap menyantap apa saja yang ada di depannya. Orang-orang bergidik melihat tingkahnya dan pengawalnya. Banyak yang sedang mencibir. Namun, ketika ketahuan, Dolah langsung memelototkan mata. Hampir saja bola mata itu lepas dari tempatnya. Dolah memandangi orang yang ada di pasar. Pasar ini begitu ramai, pikir Dolah.

Sobat Kandang

Hamparan padi terpapar begitu saja. Tidak. Ada yang menanamnya. Tentu saja. Sang penanam padi disebut Petani. Namun, tak banyak petani yang sedang bekerja sekarang ini. Melainkan adalah pencari rumput. Adalah mencari rumput untuk ternak mereka.

Salah satu yang sedang mencari rumput adalah Doni. Ia sedang mencari rumput bukan untuk ternaknya. Ia tak punya ternak. Namun untuk dijual agar mendapatkan uang. Hari ini hari pertama ia mencari rumput. Dengan berbekal arit—berbentuk seperti clurit—dan karung, ia sudah terlihat seperti pencari rumput yang handal.

Ia memotongi rumput dengan bersungguh-sungguh. Ada linangan air mata di pipinya. Ia memikirkan bapaknya yang sedang sakit. Tak punya banyak uang. Lalu, juga adik-adiknya yang membutuhkan makanan. Ibu. Bagaimana dengan ibunya? Kata ‘ibu’ tidak ada dalam kamus Doni. Ia memanggilnya ‘Emak’. Emak meninggal ketika melahirkan adik Doni.

Karateka Tempe

Dian berjalan dengan terburu-buru. Ia takut terlambat datang latihan. Maka ketika sampa di dojo, ia lantas mengganti baju dan mulai ikut latihan. Ini latihan karate pertamanya di Surabaya. Sebelumnya ia sudah ikut karate di Jember. Tapi, kini ia pindah sekolah di Surabaya dan tentu saja harus mengikuti latihan karate di Surabaya.

Mula-mula ia pemanasan lalu mulai latihan inti. Tiba-tiba ia dipanggil oleh pelatih karate.

“Nak, kamu pasti anak baru ceritakan tentang dirimu, supaya teman-temanmu tahu. Dan untuk yang lainnya, tolong dengarkan dia memperkenalkan diri,” katanya.

Dian maju dengan ragu. Lalu mulai memantapkan diri. “Nama saya Dian. Diana Tunggadewi. Saya pindahan dari Jember. Saya siswa kelas 6. Saya harap, kita bisa saling membantu nantinya.”

“Terima kasih, Dian. Dan untuk yang lain, ada pertanyaan?” kata Pak Pelatih.

PS 3

Rio baru tiba di rumah pukul 8 malam. Tak biasanya Rio seperti ini. Rio baru saja dari rumah Nanda. Mereka baru saja bermain PS 3 di rumah Nanda.

“Ini, sangat elit. Kau tahu? Di daerah sini, hanya aku yang punya benda ini. Kau tak ingin memilikinya juga?” kata Nanda menggebu-gebu.

“Apa? Benda apa itu?” tanya Rio.

“PS 3 (Pe-Es tiga),” kata Nanda sambil tersenyum.

Sudah sebulan ini Rio kecanduan PS. Biasanya selepas pulang sekolah hingga larut malam ini Rio hanya bermain PS saja dengan Nanda. Sampai mereka lupa waktu. Ketika pulang Mama benar-benar marah. Lalu Mama pun berusaha tenang.