Rabu, 20 November 2013

Carilah Bahu Baru


Sejadahku basah
Kokohku lusuh
Aku bersimpuh
Menangis sejadinya

Tanganku tak lagi bisa menggandeng tanganmu
Bibirku tak lagi bisa mencium bibir manismu
Tanganku tak lagi bisa membelai rambutmu
Mataku tak lagi bisa melihat senyum manismu
Telingaku tak lagi bisa mendengar desahmu
Hidungku tak lagi bisa membau kasturimu

Memoriku


Serpihan kayu itu
Membuatku jadi rindu
Pada secuil kenangan masa lalu
Bersama dirimu, Annelieseku

Setidaknya


Aku berjalan dengan lesu. Tak ada semangat secuil pun rasanya, Kulihat Hermann menungguku sambil membaca buku.

“Bagaimana?” tanya Hermann.

“Ditolak,” balasku.

Hermann diam. Ia mencoba menghibur tapi bingung.

“Seharusnya aku bercermin, aku ini tak pantas dicinta. Tak berpenghasilan tapi merokok. Sekolah tapi tak terpelajar. Beragama tapi tak sembahyang,” selorohku.

Hermann masih diam.

Tiba-tiba gadis manisku datang menghampiriku.

“Kun,” katanya, “aku suka puisi-puisimu.”

Ia langsung pergi meninggalkan senyuman termanis di dunia. Aku cuma terbengong. Memandang heran, kok ada bidadari tanpa sayap.

“Sudahlah, Kun. Setidaknya ia menyukai puisimu, meski kau ditolaknya.”

“Ya, setidaknya aku bisa membatalkan niat bunuh diriku, paling tidak menundanya.”

Sleman, 24 April 2012

Aditya Prahara

Jogja Jogja


Wah, saya lagi di Jogja nih. Asyik, asyik, asyik. Niat saya ke sini untuk menghilangkan stres, eh saya malah tambah stres.

Ini sebenarnya malam terakhir saya di sini. Besok pagi saya sudah cabut ke Jember lagi, ada beberapa urusan yang harus selesai.

Ehm, selama di sini saya ndak ke mana-mana sih. Saya cuma ndekem di rumah pakdhe saja. Cuma kemarin sih, hari Senin, saya jalan-jalan ke Maliobor sama sepupu saya. Ya, biasalah apalagi kalau ga cari oleh-oleh. Lantaran dompet saya tipis, saya cuma beli satu oleh-oleh deh buat gadis saya. Maaf.

Jancuk dan Asu


Pengantar:

Wah saya ndak tahu ini harus ngomong apa. Soalnya saya mesti kekel tiap mau baca apa yang akan saya tulis ini. Jadi gini, yang hendak Anda baca di sini sebenarnya sebuah lirik lagu. Saya amat menyukai lagu dari Koes Plus yang berjudul ‘Manis dan Sayang’. Setiap saya main gitar, seolah lagu ini adalah lagu wajib untuk saya mainkan. Lha, karena lagu ini, saya jadi terinspirasi untuk memlesetkan lagu ini jadi sebuah lagu yang esip. Anda mau menyebutnya sajak juga ndak papa kalau ndak tahu lagu aslinya. Kalau tahu lagu ‘Manis dan Sayang’, yang cobalah dinyanyikan.

Tapi untuk menyebutnya sebuah sajak ya nggak pantas juga, karena sangat blak-blakan (kayak judul lagunya Sujiwo Tejo), be transparent. Bila menyebutnya sajak ya sangat ndak puitis karena terkesan vulgar. Riffattere mendefinisikan sajak sebagai ‘mengatakan sesuatu artinya lain’. Definisi yang tidak cocok dengan sajak ini yang amat terang dan tidak sembunyi-sembunyi. Tapi ya sebut saja demikian lah.

Coba simak:

Anggota DPR korupsi
Jancuk, jancuk, jancuk
Anggota DPR ngelonte
Asu, asu, asu