Selasa, 03 November 2015

Saya Memilih, Kami Memilih

Ilustrasi - mural perlawanan (kfk.kompas.com/Singgih Aditama)

Entah dosa apa yang telah dilakukan oleh tanah ini sehingga air tak kunjung juga turun di sini. Mentari Surabaya begitu teriknya sampai saya harus membuka kemeja agar angin berkenan bersua dengan kulit saya. Tengah hari memang begini adanya hawa di Surabaya. Sudah lelah kuliah sedari pagi, hujan enggan menghampiri, kini perut minta di isi. Saya memilih ke kantin agar perut tak menjerit lagi, mungkin sekadar makan bahkan juga bisa diskusi.

Rabu, 16 September 2015

Duo Manchester Menelan Pil Pahit


Liga Champions UEFA musim 2015/2016 akhirnya sudah dimulai. Matchday pertama dari grup A-D baru saja digelar dinihari WIB (16/9/2015) semalam. Hasilnya cukup membuat terkejut para pecinta sepak bola Eropa.

Minggu, 09 Agustus 2015

Tanpa Internet? Mustahil

Malam ini adalah malam ke-12 saya tinggal di Mulyoagung, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Saya di sini untuk menjalankan tugas KKN dari kampus. Hmm, suasana baru untuk menulis memang. Sangat disayangkan kalau sampai saya tak menulis di sini.

Rabu, 22 Juli 2015

Makan Sambil

Lebaran adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Bersilaturahim dan makan bersama. Setidaknya itulah budaya kami sebagai bagian dari masyarakat Nusantara.

Seperti biasa, Ibuku membuat lontong dan memasak opor ayam.

“Mari kita makan!” pekik ayahku.

Kami mulai menyantap hidangan. Tiba-tiba adikku Sadewa menaruh piringnya di atas karpet depan TV. Ia tengkurap dan dengan lahap menyantap makanan sambil menonton TV.

“Jangan telentang begitu!” teriak ibu melarang Sadewa.

“Capek, Bu. Sambil nonton TV ini lho,” balas Sadewa.

“Makan sambil tengkurap, seperti ular itu!” hardik ibu.

“Lha, Mas Adit dan ayah makan sambil duduk, seperti monyet itu,” jawab Sadewa tak mau kalah.


Jember, 22 Juli 2015

Penindasan

“Kita harus melawan penindasan! Setuju?!” teriak pembicara.

“Setuju!” balas forum. Aku tak ikut teriak setuju. Perlu kiranya aku bertanya dulu.

“Bagi yang ingin bertanya silakan angkat tangan,” pinta pembicara.

Aku pun mengangkat tangan. Pembicara sepertinya tak mengindahkanku.

“Oke, kalau tidak ada pertanyaan langsung saya lanjutkan diskusinya.”

Aku pun semakin meninggikan tanganku. Tiba-tiba, seseorang di sebelahku ikut mengangkat tangan.

“Silakan, Mas.”

“Saya mau tanya kenapa orang di samping saya angkat tangan tidak diberi kesempatan bertanya?” tanyanya sambil menunjukku.

Semua orang menatapku.

“Maaf,” kata pembicara. Ia menyilakanku.

“Saya mau tanya, bolehkah kita melawan penindasan dengan cara menindas seperti yang dilakukan pembicara barusan?”

Jember, 6 Juli 2015