Minggu, 25 Januari 2015

Inilah Olahraga yang Indah: Kisah Duo Raksasa Premier League


Anda salah satu penggemar Premier League? Mana klub favorit Anda, Chelsea atau Manchester City? Jika bukan keduanya mungkin pantas kiranya Anda akan tertawa lebar. Pasalnya saya akan berbicara mengenai luka menganga yang baru mereka dapat di pentas Piala FA semalam.

Diporakporandakan Klub League One

Penggemar Chelsea tentu optimis melihat tim pujaannya ‘hanya’ menghadapi Bradford, klub kasta ketiga Liga Inggris. Dengan status Chelsea sebagai pemuncak klasemen sementara siapa yang akan meragukan kekuatan Chelsea yang akhir pekan lalu baru saja melibas Swansea dengan skor 5-0 di Stadion Liberty—kandang Swansea. Bagi Bradford, ini merupakan laga sangat berat. Betapa tidak, mereka tidak pernah menang dalam 12 laga terakhir saat dijamu Chelsea di Stamford Bridge. Namun, jangan pula meremehkan karena klub yang berkompetisi di League One itu telah mempecundangi Wigan, Arsenal dan Aston Villa sebelum berhadapan dengan Chelsea. Pelatih Chelsea, Jose Mourinho pun sempat membuat pernyataan sebelum pertandingan melawan Bradford ini.

“Untuk membantu meraih gelar juara (Liga Primer), hal terbaik adalah kalah melawan Bradford, kalah melawan Liverpool, kalah melawan Paris Saint Germain, lalu hanya bermain di Liga Primer sampai akhir musim. Tapi, tidak dengan kami. Tidak dengan mentalitas kami, tidak dengan cara kami berpikir tentang pekerjaan kami, tidak dengan jati diri Chelsea. Waktu itu seorang pelatih klub besar terlempar ke luar dari ajang turnamen dan dia berkata, ‘Bagus, sangat bagus. Ini sempurna bagi kami karena kini kami bisa fokus ke kompetisi yang lain’. Jika saya kalah melawan Bradford, saya tidak akan berkata demikian. Saya akan berkata, ‘Ini adalah aib’,” ujar pria asal Portugal itu sebagaimana dilansir oleh BBC.

Pernyataan yang memuat rasa percaya diri yang tinggi. Namun, rupanya Mourinho kurang waspada. Pada babak keempat Piala FA tersebut ia mengistirahatkan kiper Thibaut Courtois dan kapten John Terry dan menggantikannya dengan Petr Cech dan bek Kurt Zouma. Mou juga menugasi Andre Schurrle dan Mohamed Salah, dua pemain yang dikabarkan akan hengkang dari Chelsea karena selalu menjadi ‘penghangat’ bangku cadangan.

Sabtu, 24 Januari 2015

Bocah 16 Tahun Seharga 43 Milyar Rupiah

Dalam sepekan terakhir, ada seorang bocah yang menjadi buah bibir bagi publik pecinta sepak bola. Hampir semua media sepak bola menampilkan tentang seorang wonderkid asal Norwegia ini. Namanya Martin Odegaard. Lantas apa yang special dari seorang Odegaard ini?

Memecahkan Banyak Rekor

Ini buka kali pertama pemain yang baru genap 16 tahun pada Desember 2014 kemarin ini berhasil mencuri perhatian dunia. Ia pertama kali menjadi perbincangan hangat dalam jagad sepak bola bahkan saat ia masih berusia 15 tahun dengan sejumlah rekor yang ia pecahkan. Pada 3 April 2014, Odegaard tercatat sebagai pemain termuda yang melakukan debut di Liga Norwegia bersama Stromsgodset saat berusia 15 tahun 117 hari. Berikutnya pada 16 Mei 2014, ia tercatat menjadi pemain termua yang mencetak gol di Liga Norwegia saat berusia 15 tahun 160 hari. Lantas pada 27 Agustus 2014, ia tercatat juga sebagai pemain termuda yang membuat debut di Timnas Norwegia saat berusia 15 tahun 253 hari. Tak cukup sampai di situ, pada 13 Oktober 2014 ia mencatat satu rekor lagi untuk ‘urusan termuda’ ini. Pada tanggal itu ia menjadi pemain termuda di kualifikasi Euro saat berusia 15 tahun 300 hari.

Bergabung dengan Tim Bertabur Bintang

Selasa, 20 Januari 2015

Juara Bertahan Kalah di Kandang? Inilah Liga Inggris, Kawan!

Jalannya Pertandingan Man. City vs Arsenal (sumber: id.premierleague.com)
Pekan ke-22 Premier League menghadirkan satu pertandingan menarik untuk ditonton yakni Manchester City melawan Arsenal. Tak berlebihan kiranya bila saya mengatakan ini adalah big match. Tengok saja, City menyandang status sebagai jawara Premier League 2013-2014, sedangkan Arsenal adalah jawara FA 2014. Tapi ini bukan Community Shield—pertandingan antara jawara Premier League melawan jawara FA—pertandingan adalah Premier League.

Sejujurnya kalau memang ini Premier League, Manchester Biru jelas layak diunggulkan disbanding Arsenal. Pasalnya City tengah dalam peforma bagus, dalam sepuluh pertandingan terakhir, The Citizens ini berhasil mengemas delapan kemenangan dan dua kali imbang, tanpa kekalahan. Bandingkan saja dengan Arsenl, klub asal London Utara ini ‘hanya’ mengemas enam kemenangan, satu kali imbang dan tiga kali menelan pil pahit.

Kedua tim bertanding dengan motivasi yang hampir sama. City mengejar kemenangan demi menjaga jarak dengan sang pemuncak klasemen, Chelsea. Pun juga Arsenal yang tak ingin semakin jauh dari empat besar. Di klasemen sementara City berada di posisi ke-2, sedangkan Arsenal ada di posisi ke-5.

Minggu, 28 Desember 2014

Si 'Arogan' Itu Punya Kenangan di Indonesia

Martunis (kiri) Bersama Ronaldo
Sepuluh tahun yang lalu, 26 Desember 2004. Indonesia tersentak oleh sebuah peristiwa bencana alam yang mengerikan. Tsunami. Begitulah namanya. Bencana alam yang memporak-porandakan Nangroe Aceh Darussalam itu seolah menampar pemerintah kita ketika masih sedang dalam suasana hiruk-pikuk pemilu 2004.

Tsunami yang berasal dari Samudra Hindia itu tidak hanya meluluhlantakkan Aceh, namun juga sebagian Sumatera Utara, Sri Lanka, India, Thailand dan beberapa negara di sekitarnya. Korban terparah ada Indonesia dengan korban jiwa sebanyak 160.000 jiwa. Nah, dari peristiwa ini, Tsunami di Aceh mengisahkan sebuah kisah membuat kita terharu.

Pada 15 Januari 2005, seorang bocah bernama Martunis, ditemukan oleh sekelompok orang. Sontak orang-orang tersebut langsung membantu Martunis dan menyerahkannya kepada media Inggris yang kebetulan sedang meliput di sana. Dalam sekejap, wajah kecil Martunis dan sedang mengenakan jersey timnas sepak bola Portugal bernomor punggung 10 dan bernama Rui Costa beredar di televise Eropa. Hal ini membuat beberapa punggawa Timnas Portugal seperti, Luis Figo, Nuno Gomez, Cristiano Ronaldo dan pelatih Portugal kala itu, Luiz Felipe Scolari merasa iba.

Ronaldo pun langsung ke Indonesia untuk menemui Martunis yang ketika itu masih berumur 8 tahun. Namun semua orang bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang bocah 8 tahun bisa bertahan hidup selama 21 hari dari bencana alam yang begitu kejam? Dan bagaimana ceritanya Martunis bisa sampai memakai jersey Timnas Portugal?

Rabu, 24 Desember 2014

Kerasnya Liga Inggris Menelan Korban

Kepala Skrtel Terinjak oleh Oliver Giroud
Pesona Premier League sebagai liga terbaik di dunia sangat kuat menyedot perhatian pecinta sepak bola. Hingga pekan ke-17, Chelsea yang diarsiteki oleh Jose Mourinho masih perkasa di singgasana dengan 42 poin. Di belakangnya terdapat Manchester City, Manchester United dan West Ham United secara berturut-turut mendudukan posisi empat besar. Menarik karena pasti kita semua bertanya-tanya, ke mana Liverpool dan Arsenal, dua klub besar Inggris yang musim lalu finish di posisi empat besar?

Pekan ke-17 Premier League mengisahkan pertarungan Liverpool yang tengah menjamu Arsenal. Dalam pertandingan yang berlangsung di Anfield mencatatkan beberapa sejarah bagi kedua tim. Adalah Arsenal yang mencatat ball possession yang sangat rendah yakni ‘hanya’ 36%! Selain itu, Arsenal juga hanya melakukan shots on goal sebanyak tiga kali dan dua di antaranya berbuah gol. Bandingkan dengan Liverpool yang mencatatkan 64% dan melakukan shots on goal sebanyak 10 kali. Tentu Arsenal lebih efektif dibanding Livepool.

Namun, bukan data statistik itu yang membuat pecinta sepak bola memperbincangkan laga ini. Melainkan sebuah tragedi mengerikan yang terjadi di tengah pertandingan tersebut.

Kejadian ini berawal dari perebutan bola antara bek Liverpool Martin Skrtel dan striker Arsenal Oliver Giroud. Alhasil, Skrtel pun harus rela kepalanya tersungkur. Tak cukup sampai di situ, kepala Skrtel harus rela pula terinjak oleh kaki Giroud yang kala itu tengah melangkah. Jangan disangka kaki Giroud mulus telanjang, tentu saja kakinya dihiasi oleh sepatu sepak bola. Jadilah, darah mengucur deras dari kepala Skrtel dan membuatnya berteriak kesakitan. Kepala Skrtel sampai harus ditutup dengan 8 jahitan. Namun, bukannya istirahat karena sedang terluka, pemain berusia 30 tahun ini malah memaksa untuk terus bermain.

Sampai memasuki menit 90, Liverpool masih tertinggal dengan skor 1-2. Waktu tambahan yang mencapai sembilan menit, membuat pemain Liverpool terus berusaha tanpa putus asa. Sayang, pada waktu tambahan tersebut Liverpool harus bermain dengan 10 pemain karena Fabio Borini mendapat kartu kuning kedua. Namun, siapa yang menyangka, secara dramatis Liverpool berhasil menyamakan kedudukan sehingga terhindar dari kekalahan di kandanga sendiri. Dan siapakah pahlawan Liverpool kali ini? Martin Skrtel! Pemain yang tadi terluka menjadi pahlawan setelah mencetak gol dengan sebuah sundulan!