Minggu, 13 Juli 2014

Jadi, Pemain yang Dihukum FIFA Bergabung dengan Klub yang Dihukum FIFA


Bagi pecinta sepak bola, tentu Anda sangat mengenal siapa sosok seorang Suarez. Ya, ia adalah seorang penyerang Uruguay yang beberepa minggu lalu menjadi santapan media sepak bola karena kelakuannya tidak patut dilakukan oleh seorang pesepak bola. Saat itu Italia menghadapi Uruguay dalam laga pamungkas grup untuk menentukan siapa yang akan lolos ke babak 16 besar. Pada pertandingan itu Suarez menggigit Chiellini, bek Italia, pada saat laga masih berjalan 79 menit dan skor masih kacamata. Pada menit ke-81, Diego Godin mencetak gol ke gawang Italia sekaligus membuyarkan ambisi Italia untuk lolos ke babak 16 karena. Italia memang hanya butuh hasil imbang untuk lolos, sedangkan Uruguay wajib menang.



Pertandingan berakhir, Italia berduka. Publik dunia pun langsung mengecam apa yang dilakukan Suarez pada Chiellini. Suarez mendapat hukuman dari masyarakat sedunia lewat ejekan dan beberapa jokes yang beredar di twitter, path, instagram, facebook dll. Ini memang bukan kali pertama Suarez melakukan hal serupa. FIFA pun tak tinggal diam, beberapa hari berselang, FIFA mengumumkan bahwa Suarez akan dihukum karena telah menciderai sportivitas dalam sepak bola. Berikut isinya:

Senin, 07 Juli 2014

Nggak Ngantuk Ya Nggak Usah Tidur

Aku sedang tiduran di ruangan TV sambil membaca buku ketika Sadewa, adikku yang berusia 10 tahun, masuk rumah dan meroboh badannya ke arahku.

“Habis dari mana kamu??” tanyaku.

“Main sama teman-teman. Capek tiga minggu libur sekolah nggak ngapa-ngapin, Mas. Main terus capek. Kata Pak Ustadz, tidur ketika puasa itu bisa mendapat pahala. Jadi, enak ya tidur aja gitu,” terangnya.

“Kalau mengantuk ya memang tidur saja. Nggak usah bawa-bawa pahala. Banyak hal yang lebih baik daripada tidur. Capek ya istirahat.”

“Iya sih. Nggak ngantuk juga.”

“Waktu puasa begini, kalau nggak ngantuk ya mending baca buku, daripada tidur.”


Surabaya, 7 Juli 2014

Aditya Prahara

Senin, 30 Juni 2014

Maunya Begitu

“Kalian sudah SMA begini, seharusnya sudah pandai mengaji. Eh. ini malah ada seorang murid tidak berwudhu dulu sebelum membaca kitab suci. Kalian harus malu punya kawan seperti itu. Menghadap Allah itu harus suci. Membaca kitabNya juga demikian,” terang guru agamaku.

“Pak, kenapa kita harus wudhu segala?” tanyaku.

“Ya, biar suci. Jangan tunjukkan kebodohanmu, Nak,” jawabnya.

“Kenapa harus suci segala, Pak? Suci atau tidak, kan jelas tidak mengurangi kuasa Allah, Pak,” balasku.

“Ya, karena Allah maunya begitu.”

Aku langsung maju ke depan dan menampar muka guru agamaku.

“Apa-apaan kamu?!! Beraninya kau menampar guru agama!!” marahnya.

“Ya, Allah maunya begitu, Pak,” balasku.

Surabaya, 30 Juni 2014

Aditya Prahara

Jumat, 27 Juni 2014

Kurma

“Mas, aku buka ya kurmanya,” kata Sadewa, adikku yang masih 10 tahun.

“Kurma? Bungkus kali yang dibuka,” balasku.

“Oh iya itu maksudku.” Ia tersenyum.

Ia membukanya dan mulai memakan isinya.

“Kata Pak Ustad, memakan kurma itu bisa dapat pahala, Mas. Benar nggak?” tanyanya.

Aku terdiam. Kira-kira atas dasar apa ustad itu mengatakan demikian? Aku mencoba mencari jawaban yang pas.

“Makanan apa saja yang kita miliki, akan lebih baik kalau itu bisa dibagikan kepada orang lain. Mau kurma atau pare, kalau kita tidak berbagi ya jadi kurang baik,” jawabku

“Jadi Pak Ustad salah dong?”

“Pak Ustad hanya belum bilang,” jawabku lagi.

Jember, 27 Juni 2014

Aditya Prahara

Kamis, 19 Juni 2014

Makanya Pilih

“Silahkan duduk, Dit. Sudah lama tidak bertemu. Kamu jadi semakin gemuk ya sekarang,” ujarnya.

“Iya. Senang bisa bertemu denganmu lagi,” balasku.

“Oh iya. Mau minum apa ini?” tanyanya.

“Hmm, tidak usah repot repot.”

“Ah tidak repot kok. Mau teh atau sirop?” tanyanya lagi memastikan.

“Terserah kamu sajalah,” jawabku.

“Teh atau sirop?” Sekali lagi.

“Terserah saja.”

Ia masuk ke dalam meninggalkanku sendirian. Tak lama kemudian ia kembali menemuiku tanpa membawa segelas apa pun minuman.

“Lho mana minumannya?” tanyaku.

“Kan kamu bilang terserah. Ya sudah, tidak usah saja.

“Ya kan aku haus.”

“Makanya pilih, teh atau sirop. Kalau haus masak tidak minum.”

Surabaya, 19 Juni 2014

Aditya Prahara