Jumat, 27 Juni 2014

Kurma

“Mas, aku buka ya kurmanya,” kata Sadewa, adikku yang masih 10 tahun.

“Kurma? Bungkus kali yang dibuka,” balasku.

“Oh iya itu maksudku.” Ia tersenyum.

Ia membukanya dan mulai memakan isinya.

“Kata Pak Ustad, memakan kurma itu bisa dapat pahala, Mas. Benar nggak?” tanyanya.

Aku terdiam. Kira-kira atas dasar apa ustad itu mengatakan demikian? Aku mencoba mencari jawaban yang pas.

“Makanan apa saja yang kita miliki, akan lebih baik kalau itu bisa dibagikan kepada orang lain. Mau kurma atau pare, kalau kita tidak berbagi ya jadi kurang baik,” jawabku

“Jadi Pak Ustad salah dong?”

“Pak Ustad hanya belum bilang,” jawabku lagi.

Jember, 27 Juni 2014

Aditya Prahara

Kamis, 19 Juni 2014

Makanya Pilih

“Silahkan duduk, Dit. Sudah lama tidak bertemu. Kamu jadi semakin gemuk ya sekarang,” ujarnya.

“Iya. Senang bisa bertemu denganmu lagi,” balasku.

“Oh iya. Mau minum apa ini?” tanyanya.

“Hmm, tidak usah repot repot.”

“Ah tidak repot kok. Mau teh atau sirop?” tanyanya lagi memastikan.

“Terserah kamu sajalah,” jawabku.

“Teh atau sirop?” Sekali lagi.

“Terserah saja.”

Ia masuk ke dalam meninggalkanku sendirian. Tak lama kemudian ia kembali menemuiku tanpa membawa segelas apa pun minuman.

“Lho mana minumannya?” tanyaku.

“Kan kamu bilang terserah. Ya sudah, tidak usah saja.

“Ya kan aku haus.”

“Makanya pilih, teh atau sirop. Kalau haus masak tidak minum.”

Surabaya, 19 Juni 2014

Aditya Prahara

Kamis, 05 Juni 2014

Malam yang Indah

“Tempat yang indah, sayang,” ujarku padanya.

“Iya. Aku tak menyangka kau mengajakku ke tempat yang indah ini.”

“Kau pikir selama ini kita pacaran di kandang sapi?”

“Aku hanya bercanda.” Ia tersenyum. “Kau selalu saja mengajakku ke restoran mewah. Tak perlulah kita bermewah begini. Malam yang indah.”

“Tidak apa. Semua ini demi kamu,” balasku. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Aku mengeluarkan cincin dari saku celanaku.

“Aku juga,” katanya. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Aku terdiam. “Ya sudah kau duluan.”

“Aku hamil.”

Aku tersedak. “Maksudmu?!” Aku sedikit membentak.

Ia tersenyum pahit. “Maaf.”

“Kita tak pernah sejauh itu. Di malam yang indah ini....”

Surabaya, 5 Juni 2014

Aditya Prahara

Kamis, 08 Mei 2014

Indra Pengecap


“Lidah adalah salah satu dari lima panca indra, yakni indra pengecap. Kita tidak akan berbicara tentang silat lidah di sini, jadi jangan ada yang nyeletuk.”

Kami pun diam.

“Bagian depan lidah untuk merasakan manis. Lalu, kanan dan kiri adalah asin dan asam. Sedangkan, belakang untuk pahit. Oleh sebab itu kalau kita minum obat, kita selalu memasukkannya ke belakang agar terasa pahit.”

“Seharusnya obat ditaruh di depan, Bu,” aku menyela. “Jadi manis rasanya.”

“Dit, kita sedang tidak berbicara tentang silat lidah di sini.”

“Jadi?”

“Ehm, mungkin pernyataan ibu kurang tepat, jadi...”

“Sepertinya kita juga tidak berbicara menjilat ludah di sini, Bu.”

Surabaya, 8 Mei 2014

Aditya Prahara

Barcelona



“Gol!”

Aku melemparinya botol air mineral.

“Gol!”

Ia malah mengejekku, matanya masih menatap pada layar kaca.

“Ini luar biasa, Dit! Barcelona, Dit! Dia pasti juara. Aku yakin,” ujarnya menggebu-gebu.

“Dan, kenapa sih kau begitu suka sepak bola? Selalu Barcelona yang dibicarakan. Apa spesialnya?” tanyaku.

“Kau tidak tahu. Barcelona itu sejarahnya berawal dari perlawanan orang Katalonia kepada pemerintah kerajaan Spanyol. Jiwa pemberontak itu yang membuatku jadi menyukainya. Pun permainannya cantik pula. Itu bisa menjadi pelajaran bagiku,” terangnya.

“Aku senang kau bilang permainan Barcelona cantik. Memang demikian.”

“Lantas?”

“Kenapa kau diam saja ketika upahmu tak dibayarkan 2 bulan ini? Barcelona memang menyibukkanmu?”

Surabaya, 6 Mei 2014

Aditya Prahara