Kamis, 05 Juni 2014

Malam yang Indah

“Tempat yang indah, sayang,” ujarku padanya.

“Iya. Aku tak menyangka kau mengajakku ke tempat yang indah ini.”

“Kau pikir selama ini kita pacaran di kandang sapi?”

“Aku hanya bercanda.” Ia tersenyum. “Kau selalu saja mengajakku ke restoran mewah. Tak perlulah kita bermewah begini. Malam yang indah.”

“Tidak apa. Semua ini demi kamu,” balasku. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Aku mengeluarkan cincin dari saku celanaku.

“Aku juga,” katanya. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Aku terdiam. “Ya sudah kau duluan.”

“Aku hamil.”

Aku tersedak. “Maksudmu?!” Aku sedikit membentak.

Ia tersenyum pahit. “Maaf.”

“Kita tak pernah sejauh itu. Di malam yang indah ini....”

Surabaya, 5 Juni 2014

Aditya Prahara

Kamis, 08 Mei 2014

Indra Pengecap


“Lidah adalah salah satu dari lima panca indra, yakni indra pengecap. Kita tidak akan berbicara tentang silat lidah di sini, jadi jangan ada yang nyeletuk.”

Kami pun diam.

“Bagian depan lidah untuk merasakan manis. Lalu, kanan dan kiri adalah asin dan asam. Sedangkan, belakang untuk pahit. Oleh sebab itu kalau kita minum obat, kita selalu memasukkannya ke belakang agar terasa pahit.”

“Seharusnya obat ditaruh di depan, Bu,” aku menyela. “Jadi manis rasanya.”

“Dit, kita sedang tidak berbicara tentang silat lidah di sini.”

“Jadi?”

“Ehm, mungkin pernyataan ibu kurang tepat, jadi...”

“Sepertinya kita juga tidak berbicara menjilat ludah di sini, Bu.”

Surabaya, 8 Mei 2014

Aditya Prahara

Barcelona



“Gol!”

Aku melemparinya botol air mineral.

“Gol!”

Ia malah mengejekku, matanya masih menatap pada layar kaca.

“Ini luar biasa, Dit! Barcelona, Dit! Dia pasti juara. Aku yakin,” ujarnya menggebu-gebu.

“Dan, kenapa sih kau begitu suka sepak bola? Selalu Barcelona yang dibicarakan. Apa spesialnya?” tanyaku.

“Kau tidak tahu. Barcelona itu sejarahnya berawal dari perlawanan orang Katalonia kepada pemerintah kerajaan Spanyol. Jiwa pemberontak itu yang membuatku jadi menyukainya. Pun permainannya cantik pula. Itu bisa menjadi pelajaran bagiku,” terangnya.

“Aku senang kau bilang permainan Barcelona cantik. Memang demikian.”

“Lantas?”

“Kenapa kau diam saja ketika upahmu tak dibayarkan 2 bulan ini? Barcelona memang menyibukkanmu?”

Surabaya, 6 Mei 2014

Aditya Prahara

Selasa, 29 April 2014

Ingin Terlahir Kembali


Dalam waktu dua hari berturut-turut, saya mengalami sebuah peristiwa yang cukup menyodok hati saya. Peristiwa yang menampar keras pipi saya sehingga saya kembali berusaha menegakkan kepala untuk selalu fokus apa yang saya hadapi.

Sudah dua bulan ini, setiap akhir pekan saya pulang ke Jember untuk menengok anak istri saya. Dan kuliah saya di Surabaya memang tak bisa ditinggalkan. Setiap naik kereta ataupun bus, saya selalu berharap berjumpa dengan orang yang bisa saya ajak diskusi. Tapi, orang menembak burung, terkadang mendapat ranting yang patah. Beberapa orang yang berjumpa dengan saya di kereta selalu saya coba ajak bicara. Ada yang menyahut ada yang tidak. Rata-rata yang tidak menyahut lebih asik dengan gadgetnya.

Beberapa orang yang menyahut dan tertarik untuk berbincang-bincang ada dari berbagai macam kalangan. Ada hakim, dosen, mahasiswa, karyawan BUMN, PNS, pengusaha, bahkan sampai pula kuli bangunan. Banyak yang bisa di dapat dari mereka ketika bertukar pikiran, meski tak jarang ada pula yang malah curhat bagaimana beratnya hidup di zaman ini. Ada pula mahasiswa sok, yang bercerita dan menjelaskan segala macam hal seolah ia paling tahu dan paling pinter dan memiliki IP 5.9. Ada yang tersenyum senang bisa berbincang, ada yang cemberut karena sinyal jelek. Macam-macam.

Pagi itu, hari Senin, saya naik kereta api dari Surabaya menuju Jember. Pagi itu saya naik kereta bersama bapak dan ibu mertua yang duduk di depan saya. Mereka hendak ke Pasuruan. Di sebelah saya, duduklah seorang ibu berjilbab yang saya taksir berusia 35 tahun. Selama perjalanan dari Jember ke Pasuruan, saya lebih banyak berbincang dengan bapak mertua saya, dan si ibu tadi tidur. Setelah sampai Pasuruan, bapak dan ibu mertua saya pun turun, dan saya mencoba untuk mencari teman bicara. Dan nampaknya si ibu sebelah saya itu tertarik untuk berbincang.

“Kuliah ya, Dek?” tanyanya.

Rabu, 19 Maret 2014

Welcome to World, My Daughter

Mungkin ini adalah posting telat. Tapi paling tidak saya hanya ingin mengucap syukur atas kelahiran putri saya yang pertama. Ya, saya telah menjadi seorang bapak. Bahagia? Sudah pasti. Lahir di Jember, pada 6 Maret 2014. Jehan Kinanti Aditya. Ya, itulah namanya.