Kamis, 08 Mei 2014

Barcelona



“Gol!”

Aku melemparinya botol air mineral.

“Gol!”

Ia malah mengejekku, matanya masih menatap pada layar kaca.

“Ini luar biasa, Dit! Barcelona, Dit! Dia pasti juara. Aku yakin,” ujarnya menggebu-gebu.

“Dan, kenapa sih kau begitu suka sepak bola? Selalu Barcelona yang dibicarakan. Apa spesialnya?” tanyaku.

“Kau tidak tahu. Barcelona itu sejarahnya berawal dari perlawanan orang Katalonia kepada pemerintah kerajaan Spanyol. Jiwa pemberontak itu yang membuatku jadi menyukainya. Pun permainannya cantik pula. Itu bisa menjadi pelajaran bagiku,” terangnya.

“Aku senang kau bilang permainan Barcelona cantik. Memang demikian.”

“Lantas?”

“Kenapa kau diam saja ketika upahmu tak dibayarkan 2 bulan ini? Barcelona memang menyibukkanmu?”

Surabaya, 6 Mei 2014

Aditya Prahara

Selasa, 29 April 2014

Ingin Terlahir Kembali


Dalam waktu dua hari berturut-turut, saya mengalami sebuah peristiwa yang cukup menyodok hati saya. Peristiwa yang menampar keras pipi saya sehingga saya kembali berusaha menegakkan kepala untuk selalu fokus apa yang saya hadapi.

Sudah dua bulan ini, setiap akhir pekan saya pulang ke Jember untuk menengok anak istri saya. Dan kuliah saya di Surabaya memang tak bisa ditinggalkan. Setiap naik kereta ataupun bus, saya selalu berharap berjumpa dengan orang yang bisa saya ajak diskusi. Tapi, orang menembak burung, terkadang mendapat ranting yang patah. Beberapa orang yang berjumpa dengan saya di kereta selalu saya coba ajak bicara. Ada yang menyahut ada yang tidak. Rata-rata yang tidak menyahut lebih asik dengan gadgetnya.

Beberapa orang yang menyahut dan tertarik untuk berbincang-bincang ada dari berbagai macam kalangan. Ada hakim, dosen, mahasiswa, karyawan BUMN, PNS, pengusaha, bahkan sampai pula kuli bangunan. Banyak yang bisa di dapat dari mereka ketika bertukar pikiran, meski tak jarang ada pula yang malah curhat bagaimana beratnya hidup di zaman ini. Ada pula mahasiswa sok, yang bercerita dan menjelaskan segala macam hal seolah ia paling tahu dan paling pinter dan memiliki IP 5.9. Ada yang tersenyum senang bisa berbincang, ada yang cemberut karena sinyal jelek. Macam-macam.

Pagi itu, hari Senin, saya naik kereta api dari Surabaya menuju Jember. Pagi itu saya naik kereta bersama bapak dan ibu mertua yang duduk di depan saya. Mereka hendak ke Pasuruan. Di sebelah saya, duduklah seorang ibu berjilbab yang saya taksir berusia 35 tahun. Selama perjalanan dari Jember ke Pasuruan, saya lebih banyak berbincang dengan bapak mertua saya, dan si ibu tadi tidur. Setelah sampai Pasuruan, bapak dan ibu mertua saya pun turun, dan saya mencoba untuk mencari teman bicara. Dan nampaknya si ibu sebelah saya itu tertarik untuk berbincang.

“Kuliah ya, Dek?” tanyanya.

Rabu, 19 Maret 2014

Welcome to World, My Daughter

Mungkin ini adalah posting telat. Tapi paling tidak saya hanya ingin mengucap syukur atas kelahiran putri saya yang pertama. Ya, saya telah menjadi seorang bapak. Bahagia? Sudah pasti. Lahir di Jember, pada 6 Maret 2014. Jehan Kinanti Aditya. Ya, itulah namanya.



Senin, 13 Januari 2014

9x2 atau 2x9


Ibu Guru membagi hasil ujian Matematika. Aku terkejut nilaiku hanya 90 dari. Kuperhatikan dengan seksama, semua jawabanku benar. Aku langsung ke depan meja guru.


“Bu, kok satu jawaban saya disalahkan? Kan harusnya benar,” ujarku.

“Jawaban kamu memang salah, Nak,” balas Ibu Guru.

“Coba ibu lihat, 9+9, saya jawab sama dengan 9x2, dan jawabannya 18. Kok salah?”

“Oh ini yang benar, 9+9 sama dengan 2x9, dan jawabannya memang 18. Tapi kamu menulisnya 9x2.”

“Kan sama saja, Bu,” sanggahku.

“Nak, kamu baru kelas 2 SD, dan kita baru belajar perkalian sampai angka 2. Belum sampai 9, jelas jawabanmu salah,” kata Ibu Guru.

Surabaya, 13 Januari 2014

Aditya Prahara

Makan Bareng

Jalanan begitu macet ketika langit sudah gelap ini. Mobilku sama sekali tak bisa bergerak. Kulihat ada beberapa anak penjual koran mulai menghampiri mobil yang antri di lampu lalu lintas ini satu per satu. Salah satu dari mereka menghampiri mobilku. Nasib seorang jomblo, meskipun bermobil, tetap saja sendiri. Mungkin mereka bisa menghiburku. Kubuka kaca jendela.

“Bang, koran?” tawarnya. Kutaksir ia berusia 10 tahun.

“Hmm, beritanya nggak menarik,” balasku.

“Tolonglah bang. Saya belum makan.”

“Ya sama dong. Saya juga belum makan.”

“Tapi, abang kan punya mobil,” jawabnya.

“Terus? Apa hubungannya?” tanyaku.

“Jual aja mobilnya. Terus kita makan bareng deh,” ujarnya sambil tersenyum.

Surabaya. 11 Januari 2014

Aditya Prahara