Senin, 16 Mei 2016

Selamat Tinggal, Pellegrini!


Musim ini Premier League telah usai. Hasil mengejutkan dan tercatat dalam sejarah dengan melahirkan juara baru yakni, Leicester City. Namun, EPL masih menyisakan satu pertandingan antara Manchester United vs Bournemouth. Sebenarnya pekan terakhir EPL selalu diselenggarakan dalam waktu yang bersamaan, nama laga pamungkas pasukan Setan Merah harus ditunda karena adanya paket yang mencurigakan.

Rabu, 11 Mei 2016

Memulai Lagi

Ilustrasi: Alamy

Wah, sudah lama ya saya tidak menulis di blog!

Entah itu sudah kalimat ke berapa yang pernah saya tulis di blog ini. Kalau dilihat-lihat, terakhir kali saya mem-posting tulisan di blog ini pada Februari 2016. Sudah tiga bulan ternyata.

Kamis, 11 Februari 2016

Jangan Bersedih

Ilustrasi
Siang ini terik matahari begitu terasa menyiksa. Aku tadinya tengah asik berbincang dengan seorang temanku, Roni, di kantin sampai akhirnya ia pamit untuk ke toilet. Aku memandangi satu per satu setiap orang yang ada di dalam kantin ini. Semua berjalan terlalu biasa.

Senin, 11 Januari 2016

Akhirnya Buku Pertama Saya Lahir

Penampakan Buku Saya. (dokpri)
Desember 2015 menjadi catatan penting bagi hidup saya. Ya, ‘anak’ pertama saya akhirnya sudah terbit. Wah, senang sekali rasanya. Seteleh beberapa tahu saya pengen banget nerbitkan buku, sekarang benar-benar terealisasi.

Sabtu, 09 Januari 2016

Raibnya Sila Kelima

Ilustrasi Pancasila
Pagi ini upacara bendera seharusnya berjalan seperti biasanya. Ini masih seperti biasanya kendati terik matahari begitu menyengat kulit kami. Hembusan angin cukup menyegarkan tapi tak menyelamatkan kami dari kejenuhan. Kejenuhan yang terus terpelihara karena upacara bendera tak merasuk ke dalam hati.

Minggu, 27 Desember 2015

Kado Pahit Aaron Ramsey di Boxing Day

Aaron Ramsey (tengah) dan Mesut Ozil (kanan) meratapi kekalahan Arsenal melawan Southampton semalam (26/12/2015). (c) dailymail.co.uk
Setiap Natal dan menjelang tahun baru, hampir seluru kompetisi di Eropa diliburkan untuk menikmati liburan akhir tahun. Namun tidak di Inggris. Tanggal 26 Desember adalah hari sakral nan sibuk bagi publik sepak bola Inggris. Mereka menyambut suka cita akan hadirnya sebuah momen yang sangat spesial. Masih dalam nuansa Natal, Premier League selalu menyajikan pertandingan hanya sehari pasca natal yang biasa disebut Boxing Day.

Selasa, 15 Desember 2015

Harapan Baru Itu Bernama Vardy dan Donnarumma

Gianluigi Donnarumma (kiri) dan Jamie Vardy. (c) Getty Images
Musim 2015/2016 di liga-liga Eropa sudah hampir berjalan separuh. Dan selama separuh musim ini, publik pencinta sepak bola Eropa disuguhkan berbagai hal yang menakjubkan, mulai dari rekor demi rekor yang terpecahkan hingga lahirnya bintang baru.

Rabu, 18 November 2015

Mahasiswa Beda-beda

Ilustrasi (sumber: kesekolah.com)

“Rapi sekali kamarmu, Dit!” pekik seorang temanku ketika masuk kamar kosku.

Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Niat sekali kamu ya,” sambungnya. Ia memandangi tembokku yang dihiasi oleh kertas berisikan banyak catatan. “Revisi. Temui dosen. Baca buku Peter Berger. Niat sekali. Semua tertata.”

“Ya, memang harus begitu. Semua itu memudahkan segala aktifitasku.”

“Kan sekarang sudah ada HP. Bisa dicatat di HP.”

“Ini lebih memudahkanku. Setiap mahasiswa punya cara yang berbeda-beda, Bung.”

“Niat sekali untuk cepat lulus kamu, Dit. Aku saja baru beli flashdisk kemarin,” katanya.

“Cukup membantu untuk tugas itu,” balasku.

“Ah, isi tugas di flashdisk-ku paling cuma 10 persen.”

“Sisanya?”

“Bokep.”


Surabaya, 18 November 2015

Selasa, 17 November 2015

Sampai Di Sini

Ilustrasi Putus Cinta (liputan6.com)

Tadi siang kekasihku mengirim pesan padaku bahwa ia ingin bertemu denganku malam ini, penting katanya. Nampaknya hubungan kami mulai serius. Aku pun bersemangat untuk berjumpa dengan belahan jiwaku. Dua tahun menjalin kasih kami memang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.

Aku tiba di tempat yang ditentukannya, dan kulihat ia melambaikan tangan ke arahku. Aku menghampirinya disambut dengan senyum manis di bibirnya. Ingin sekali kucium bibir itu.

“Kau masih mencintaiku?” tanyanya tiba-tiba.

“Tentu saja. Memangnya kenapa?” tanyaku balik.

“Aku sudah tidak. Sampai di sini saja ya kita.”

Aku terkejut mendengarnya.

“Mengapa?”

“Aku sudah mencintai perempuan lagi. Maaf,” jawabnya lugas. Ketampanannya mulai hilang.


Surabaya, 17 November 2015

Sebuah Penolakan

Ilustrasi Penolakan (tribunnews.com)

Akhirnya malam itu tiba juga. Setelah sebulan lebih kami dekat, kali ini aku berniat untuk menjadikannya sebagai kekasihku. Tak perlu ditunda, sudah sepantasnya kami berjalan sebagai sepasang kekasih.

Kami pun tiba di restoran pilihannya. Kami memesan, tak lama makanan datang dan kami langsung menyantapnya. Selesai, inilah saat yang tepat untuk menyatakan cinta.

“Aku ingin bicara padamu,” kataku.

“Kau pikir sedari tadi kita membisu?” guranya diikuti senyum yang amat manis sekali.

“Aku sangat mencintaimu. Maukah kau jadi pacarku?” ucapku tanpa ragu terlontar begitu cepat.

Raut mukanya berubah. Senyumnya sirna. “Maaf. Aku masih mencintai perempuan.”

Ia tersenyum lagi. Ia masih sangat tampan.


Surabaya, 17 November 2015

Upacara Bendera

Ilustrasi Upacara Bendera

Jenuh sekali rasanya setiap kali upacara bendera di hari Senin selalu begini. Sedari SD, sampai sekarang aku sudah SMA, matahari selalu terik.

Pengibaran bendera dilakukan, para guru berbaris tanpa tenaga. Apalagi siswa-siswi terlihat mulai bosan. Paduan suara bernyanyi dengan semangat terpaksa. Hanya petugas upacara yang begitu bersemangat karena katanya menambah nasionalisme kompak dengan matahari yang menyiksa kami.

Semua hormat kepada bendera merah putih.

“Plak!”

Seorang guru memukul kepalaku dari belakang.

“Kenapa saya dipukul, Pak?” tanyaku.

Ia memelototiku.

“Waktu hormat kepada bendera malah garuk-garuk kemaluan. Ayo hormat yang benar!” bisiknya.

“Bapak juga hormat dong. Lha wong gatal saja masak ndak boleh.”

Surabaya, 17 November 2015


Senin, 16 November 2015

Tragedi dan Simpati

Tagar #PrayForParis (sumber foto: liputan6.com)

Tragedi di Paris, Perancis, yang terjadi kemarin sangat mengguncang dunia. Banyak orang menaruh simpati akan tragedi itu. Hal itu kulihat dari facebook, di mana banyak orang memasang foto bendera warna merah-putih-biru di foto profilnya.

“Sok sekali. Perancis terkena teror saja orang langsung sok simpati dengan pasang foto macam begitu dan tagar #saveparis atau #prayforparis,” kata seorang kawan di sebelahku.

“Apa salahnya dengan simpati?” tanyaku.

“Maksudku tak perlu berlebihan. Tengoklah yang terjadi di Palestina. Tak perlu jauh deh, di tanah air kita ada penindasan oleh aparat terhadap petani. Mana yang simpati?”

“Mana yang simpati? Kamu sendiri apa tak simpati pada petani?”

Surabaya, 16 November 2015

Rabu, 11 November 2015

Hari Pahlawan

Ilustrasi 10 November 1945 (sumber foto: berdikarionline.com)

“Baiklah, anak-anak. Jadi, di Hari Pahlawan nanti, 10 November, kalian diwajibkan untuk memakai atribut TNI ya. Pakai kaos atau baju atau celana loreng-loreng,” kata Bu Guru di hadapan seluruh siswa di dalam kelas.

“Lho? Kenapa harus pakai baju TNI, Bu?” responku.

“Ya kita harus hargai jasa para pahlawan dengan mengenakan pakaian mereka,” jawab Bu Guru.

“Kan yang berjuang saat itu bukan TNI. Rakyat biasa, santri, petani, dan sebagainya lho yang berjuang. Pakaian yang mereka pakai juga seadanya. Bahkan TNI belum lahir kala itu,” balasku.

“Sudahlah jangan kebanyakan protes!” hardik beliau.

“Mencoba berpendapat dan sesuai dengan sejarah saja kok dibilang protes.”


Surabaya, 11 November 2015

Kamis, 05 November 2015

Surabaya Semakin Panas, Mungkin Iya

Ilustrasi jendela (Rumahku.com)
Akhir-akhir ini saya mendapati banyak keluhan tentang udara panas Surabaya yang begitu menyengat. Hujan memang sudah mendatangangi kota Pahlawan ini, namun hanya sekejap. Gerimis sebentar lalu hilang. Deras sebentar lalu pergi. Bahkan hujan pun enggan mendatangi kota metropolitan yang hawanya membuat penduduknya senang menggunakan AC ini.

Selasa, 03 November 2015

Saya Memilih, Kami Memilih

Ilustrasi - mural perlawanan (kfk.kompas.com/Singgih Aditama)

Entah dosa apa yang telah dilakukan oleh tanah ini sehingga air tak kunjung juga turun di sini. Mentari Surabaya begitu teriknya sampai saya harus membuka kemeja agar angin berkenan bersua dengan kulit saya. Tengah hari memang begini adanya hawa di Surabaya. Sudah lelah kuliah sedari pagi, hujan enggan menghampiri, kini perut minta di isi. Saya memilih ke kantin agar perut tak menjerit lagi, mungkin sekadar makan bahkan juga bisa diskusi.

Rabu, 16 September 2015

Duo Manchester Menelan Pil Pahit


Liga Champions UEFA musim 2015/2016 akhirnya sudah dimulai. Matchday pertama dari grup A-D baru saja digelar dinihari WIB (16/9/2015) semalam. Hasilnya cukup membuat terkejut para pecinta sepak bola Eropa.

Minggu, 09 Agustus 2015

Tanpa Internet? Mustahil

Malam ini adalah malam ke-12 saya tinggal di Mulyoagung, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro. Saya di sini untuk menjalankan tugas KKN dari kampus. Hmm, suasana baru untuk menulis memang. Sangat disayangkan kalau sampai saya tak menulis di sini.

Rabu, 22 Juli 2015

Makan Sambil

Lebaran adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Bersilaturahim dan makan bersama. Setidaknya itulah budaya kami sebagai bagian dari masyarakat Nusantara.

Seperti biasa, Ibuku membuat lontong dan memasak opor ayam.

“Mari kita makan!” pekik ayahku.

Kami mulai menyantap hidangan. Tiba-tiba adikku Sadewa menaruh piringnya di atas karpet depan TV. Ia tengkurap dan dengan lahap menyantap makanan sambil menonton TV.

“Jangan telentang begitu!” teriak ibu melarang Sadewa.

“Capek, Bu. Sambil nonton TV ini lho,” balas Sadewa.

“Makan sambil tengkurap, seperti ular itu!” hardik ibu.

“Lha, Mas Adit dan ayah makan sambil duduk, seperti monyet itu,” jawab Sadewa tak mau kalah.


Jember, 22 Juli 2015

Penindasan

“Kita harus melawan penindasan! Setuju?!” teriak pembicara.

“Setuju!” balas forum. Aku tak ikut teriak setuju. Perlu kiranya aku bertanya dulu.

“Bagi yang ingin bertanya silakan angkat tangan,” pinta pembicara.

Aku pun mengangkat tangan. Pembicara sepertinya tak mengindahkanku.

“Oke, kalau tidak ada pertanyaan langsung saya lanjutkan diskusinya.”

Aku pun semakin meninggikan tanganku. Tiba-tiba, seseorang di sebelahku ikut mengangkat tangan.

“Silakan, Mas.”

“Saya mau tanya kenapa orang di samping saya angkat tangan tidak diberi kesempatan bertanya?” tanyanya sambil menunjukku.

Semua orang menatapku.

“Maaf,” kata pembicara. Ia menyilakanku.

“Saya mau tanya, bolehkah kita melawan penindasan dengan cara menindas seperti yang dilakukan pembicara barusan?”

Jember, 6 Juli 2015

Hati-Hati Perutmu Kaget

Di bulan Ramadhan ini, aku nonkrong bersama teman-temanku setelah kami shalat terawih dan terkadang tadarus di masjid kampus.

Seorang temanku, Samsul datang ketika kami semua tengah berkumpul. Ia membawa bungkusan yang kutaksir berisi makanan.

“Makanan, makanan. Pizza nih,” kata Samsul.

Kami langsung berebut makanan bak orang kelaparan. Aku tak ketinggalan.

“Dit, ini makanan mahal buat orang kaya. Hati-hati perutmu kaget,” kata Samsul padaku.

Waktu sahur pun tiba. Masjid kampus kami membagikan nasi bungkus untuk warga sekitar. Kami semua pun pergi ke Masjid. Aku melihat Samsul turut.

“Sul, ini makanan murah buat orang miskin. Hati-hati perutmu kaget,” kataku.

Kami semua pun tertawa.


Surabaya, 28 Juni 2015